Foto & Persona

Menyelami Foto Jurnalistik: Wawancara bersama Mithila Jariwala

Jurnalis foto Mithila Jariwala tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil jalan fotografi. Tetapi sebuah perjalanan mengelilingi Amerika Serikat sebagai siswa pertukaran dengan kamera digitalnya yang pertama tidak hanya mengubah hal itu, namun juga menjadi awal perjalanan lain, sebagai seorang jurnalis foto. Ia berbagi pengalamannya sejauh ini dan apa yang diperlukan untuk menjadi seorang jurnalis foto.

Anak-anak dari Dras, Kashmir

Mengapa foto jurnalistik?

Ketika saya mulai bekerja secara profesional pada tahun 2010, saya seorang fotografer perjalanan. Saat saya bepergian dan melakukan dokumentasi perjalanan saya, saya ingin tahu lebih banyak tentang orang-orang yang saya temui di sepanjang jalan. Aku tidak merasa puas dengan hanya mengetahui permukaannya; saya ingin menggali lebih dalam dan tahu lebih banyak tentang kisah setiap individu. Saya menyadari bahwa saya sedang berubah menjadi seorang fotografer dokumenter. Seiring dengan perjalanan waktu, saya menjadi percaya diri dan sangat nyaman dalam melakukan pemotretan orang-orang di mana saja, berbicara bahasa apa saja. Saya tidak perlu berbicara dalam bahasa tertentu untuk merekam suatu cerita - saya telah mempelajari seni tersebut melalui kamera saya.

Seorang pengungsi Bhutan di Nepal

What’s your favourite subject to cover and why?

Apa subjek favorit Anda untuk diliput dan mengapa? Saya bukan seorang feminis, tetapi saya telah melihat ketidaksetaraan gender yang ekstrim, terutama ketika saya bertemu dan mewawancarai wanita yang pernah mengalami Mutilasi Alat Kelamin Wanita (Female Genital Mutilation / FGM) yang parah di Sudan dan banyak negara lainnya. Sejak saat itu, setiap subjek yang berkaitan dengan kesetaraan gender menjadi yang paling penting. Tapi selain itu, setiap kisah yang saya temukan dan saya rasakan dengan kuat, saya mencoba untuk meliputnya. Sangat penting untuk memiliki perasaan yang kuat dan peduli tentang orang-orang/masalah, hanya dengan demikian, Anda dapat berlaku adil terhadap kisah tersebut.

Apa yang mendorong Anda untuk meliput masalah-masalah ini?

Saya telah diberitahu bahwa seseorang harus sangat lepas dari keterlibatan emosional untuk melakukan hal ini. Tetapi bagi saya, itulah sensitivitas dan emosi yang dibawakan oleh setiap kisah yang mendorong saya untuk meliput masalah ini.

Anak dan ibu di Kassala, Sudan

Apa kisah yang paling menantang bagi Anda?

Setiap kisah memiliki tantangan tersendiri; secara emosional, psikologis, keuangan atau publikasi. Sulit untuk memilih hanya satu, tapi bisa saya katakan bahwa setelah gempa Nepal pada tahun 2015, saya meliput beberapa kisah positif dari pusat gempa dan sangat menantang untuk menyampaikan kisah positif kepada media. Kemudian saya menyadari bahwa tidak ada yang tertarik untuk menerbitkan kisah positif. Semua orang menginginkan drama.

Kondisi pasca gempa di Nepal, 2015

Apa tips Anda dalam memotret foto yang merupakan inti dari cerita?

Pertama, penting untuk memiliki perasaan yang kuat tentang kisah yang Anda liput. Kemudian penting untuk bersikap empati dan memahami kisah tersebut dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, mencurahkan waktu Anda kepada mereka, memperlakukan mereka sebagai sesama manusia dan bukan sebagai subjek, hanya dengan demikian, Anda bisa menggambarkan kisah nyata mereka dan sampai ke intinya.

Apa kamera dan lensa yang Anda gunakan selama bertugas?

Canon EOS 5D Mark II, terutama dengan lensa utama EF50mm f/1.4 USM dan lensa EF24-70mm f/2.8 II USM. Ini selalu menjadi bagian dari perangkat saya, [tapi] saya akan menambahkan lensa lain tergantung tema pemotretan saya.

Seorang anak dari suku Bateq di Malaysia

Apa saran Anda kepada calon jurnalis foto?

Jika Anda bersemangat tentang foto jurnalistik , jika Anda seorang pencerita visual dan Anda tidak takut untuk menghadapi tantangan, maka jangan berpikir dua kali. Pergi dan kejarlah. Hal ini tidak akan mudah, terutama di dunia digital saat ini, tetapi akan sangat memuaskan.

Apa yang diperlukan seseorang untuk menjadi seorang jurnalis foto?

Semangat, kasih, kerja keras dan percaya diri.

Akhirnya, apa yang ingin Anda capai dengan foto-foto Anda?

Saya berharap saya bisa membawakan emosi dari gambar-gambar saya sehingga pemirsa bisa merasakan kedalaman kisah yang coba saya sampaikan.

Kondisi kehidupan pengungsi Bhutan di Nepal

 

 

Profil fotografer

Mithila Jariwala

Secara teknis, foto jurnalistik berarti fotografer yang melakukan pemotretan jurnalistik, yang pantas dijadikan berita, yang saya lakukan, tapi saya lebih suka menyebut diri saya sebagai seorang fotografer dokumenter sosial. Seperti kisah-kisah humanis yang saya potret, dengan fokus pada isu-isu sosial yang pantas dijadikan berita, namun kisah-kisah ini tidak pada saat yang tepat sehingga tidak menjadi berita utama. Saya telah bekerja pada proyek-proyek bersama organisasi seperti UNICEF, UNDP, USAID, Chemonics, Kidasha. Saat ini saya bekerja pada kisah-kisah yang berhubungan dengan tipus untuk Sabin Vaccine Institute, sebuah organisasi yang didanai oleh Bill dan Melinda Gates Foundation.

Tanggapan

Tulis Komentar

 

Login untuk memberi tanggapan

ANDA TELAH LOG OFF DARI AKUN

Email dengan link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email SNAPSHOT anda yang terdaftar.

Setelah anda mengklik link, anda dapat login dengan detil login yang telah ada.

Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan sebagai anggota Komunitas CANON and SNAPSHOT. Kami akan berusaha memberikan konten yang bermanfaat dan seru untuk membantu anda mengembangkan bakat menjadi seorang fotografer handal!

IZIN UNTUK LANGKAH SELANJUTNYA

ID CANON anda akan disatukan dengan ID SNAPSHOT.

Link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email.

Silahkan mengetik kembali password anda agar kami dapat mengambil langkah selanjutnya.

Ketik password

Dengan mengklik disini, anda setuju untuk menyatukan CANON ID dan SNAPSHOT ID. Persetujuan tersebut tunduk pada SYARAT & KETENTUAN CANON AND SNAPSHOT. TERMS & CONDITIONS.