Tips & Tutorials

Fotografi Jalanan di Asakusa (1): Saran untuk Memotret Objek Wisata Ikonik

Kamera adalah mitra perjalanan yang sangat hebat, karena akan praktis untuk menyimpan catatan pengalaman Anda yang serba menarik. Yang lebih mengagumkan lagi, yaitu dengan mempelajari sedikit tentang cara menggunakan kamera, Anda akan mengetahui bahwa ternyata kamera bahkan dapat menangkap perasaan yang Anda rasakan di tempat tujuan perjalanan Anda. Dalam artikel ini, kami akan memperkenalkan sebagian saran mengenai fotografi jalanan, menggunakan distrik Asakusa sebagai contoh tempat yang memungkinkan Anda merasakan nuansa tradisional Jepang. (Foto oleh: Takashi Akaogi, Diedit oleh: Etica)

Close-up di Kaminarimon, dibidik dengan EOS 6D

EOS 6D/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 24mm/ Aperture-priority AE (f/4, 1/30 det., EV±0)/ ISO 1250/ WB: Auto

 

Memotret kuil Sensoji yang ramai

Sensoji, dibidik dengan EOS 6D

EOS 6D/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 70mm/ Aperture-priority AE (f/4, 1/200 det., EV±0)/ ISO 200/ WB: Auto
Lokasi pemotretan: Sensoji
Keramaian di kuil dan kepulan asap dari dupa, ditangkap dalam gambar yang sama. Akan lebih mudah menggunakan ujung telefoto lensa, alih-alih ujung sudut lebar untuk menonjolkan kesan kepadatan kerumunan pengunjung kuil.

Sensoji (juga dikenal sebagai Kuil Asakusa Kannon) adalah objek wisata populer yang menghadirkan kesan dunia kuno sehingga mudah membayangkan, seperti apa keadaannya sampai akhir abad ke-19, ketika Tokyo masih dikenal sebagai "Edo", dan Jepang masih dikuasai oleh Keshogunan, yang secara relatif tertutup bagi dunia Barat. Pemandangan utama untuk memotret adalah bangunan bersejarah di sini, seperti Kaminarimon dan Sensoji, kepulan asap yang muncul dari dupa, dan jalanan tempat berbelanja di Nakamise yang ramai dengan orang yang lalu-lalang. Karena Anda akan berada di tengah kerumunan yang lalu-lalang secara cepat, sebaiknya memastikan bahwa Anda bisa memotret dengan cepat. Saya merekomendasikan pemotretan dalam mode Program AE (P) atau mode Aperture-priority AE (Av), karena pengoperasiannya yang sederhana dan mudah untuk menala secara halus pengaturan apa pun.

 

Saran: Amati dan tangkap simetri dalam struktur kuil

Untuk menangkap kesan keagungan struktur megah sepenuhnya, seperti gerbang kuil, cobalah memotret sekaligus menyadari keberadaan bagian depan, dan arah garis panduan dari gerbang hingga ke pintu keluar. Banyak kuil yang dibangun dengan struktur yang simetris. Oleh karenanya, berdiri di depan kuil, dan perhatikan kemiringan kamera Anda untuk bisa memastikan bahwa gambar Anda berada pada level horizontal.

Kaminarimon, dibidik dengan EOS 6D

EOS 6D/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 35mm/ Aperture-priority AE (f/4, 1/125 det., EV+2)/ ISO 200/ WB: Auto
Lokasi pemotretan: Sensoji
Jika subjek Anda dikelilingi oleh kerumunan orang, maka, akan sulit untuk memotretnya. Saya memegang kamera di atas level kepala, dengan kamera yang ditetapkan dalam mode Live View, dan menggunakan monitor LCD untuk mengecek komposisinya.

 

Memotret Kaminarimon dari posisi tinggi

Selama ini, Kaminarimon adalah objek wisata di Asakusa. Pada tahun 2012, Asakusa Culture Tourist Information Center dibentuk di seberang Kaminarimon untuk memberikan informasi kepada wisatawan. Lantai 8 bangunan ini memiliki anjungan pengamatan yang dapat digunakan secara gratis. Sementara menikmati pemandangan Tokyo, termasuk Sky Tree, Anda juga bisa mengunjungi Kaminarimon yang letaknya berdekatan. Di sini, Anda akan mendapatkan pemandangan yang berbeda dari yang Anda lihat sewaktu masuk melalui pintu gerbang.

Kaminarimon, dibidik dari posisi tinggi.

EOS 6D/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 50mm/ Aperture-priority AE (f/4, 1/50 det., EV+0,7)/ ISO 320/ WB: Auto
Lokasi pemotretan: Asakusa Culture Tourist Information Center
Kaminarimon dengan Nakamise di bagian belakang. Sungguh menyegarkan melihatnya dari sudut pandang yang lebih tinggi.

 

Lihatlah serial kami mengenai fotografi arsitektural untuk saran lainnya mengenai memotret bangunan:

Fotografi Arsitektural #1: 3 Konsep Dasar
Fotografi Arsitektural #2: Menggunakan Panjang Fokus Sudut Lebar/Telefoto
Fotografi Arsitektural #3: Teknik Komposisi Efektif
Fotografi Arsitektural #4: Memotret Bangunan di Malam Hari

 

Memotret Hanayashiki

Jika Kaminarimon adalah struktur bersejarah yang mengingatkan periode Edo, maka Hanayashiki adalah taman bertema yang menawarkan sekilas wajah Tokyo lama di awal abad ke-20. Meskipun berskala kecil, namun Anda akan merasakan kesan nostalgia. Karena tempat ini tidak seramai Kaminarimo dan Nakamise, Anda bisa santai menyiapkan kamera Anda. Anda bisa menelusuri kembali dasar-dasar fotografi, sehingga Anda bisa memusatkan pikiran untuk menemukan komposisi yang bagus. Cobalah menemukan gaya fotografis Anda sendiri, misalnya dengan menggunakan komposisi yang memberikan keseimbangan yang bagus untuk subjek Anda dan menemukan sudut terbaik untuk membidiknya.

Artikel mengenai dasar-dasar komposisi:
Komposisi Sederhana namun Penting (Bagian 1): Aturan Segitiga & Aturan Segiempat
Komposisi Sederhana Tapi Penting (Bagian 2): Komposisi Tengah & Komposisi Diagonal
“Pola & Irama” & “Kurva-S”

Mengenai teori komposisi:
Teori Gestalt Pada Fotografi Jalanan

 

Miniatur Bikkuri House di Hanayashiki

EOS 6D/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 38mm/ Aperture-priority AE (f/4, 1/40 det., EV+1,3)/ ISO 200/ WB: Auto
Lokasi pemotretan: Hanayashiki
Rumah miniatur ini yang terbuat dari bahan serba manis yang lezat, adalah "Bikkuri House", yang telah menjadi objek wisata populer sejak lama di Hanayashiki. Saya menempatkannya di kanan bawah bingkai, sehingga terdapat banyak ruangan di kiri atas bingkai untuk memberikan keseimbangan.

 

Jembatan Hanayashiki, dibidik dengan EOS 6D

EOS 6D/ EF50mm f/1.8 STM/ FL: 50mm/ Aperture-priority AE (f/1.8, 1/125 det., EV±0)/ ISO 200/ WB: Auto
Lokasi pemotretan: Hanayashiki
Anda bisa menemukan subjek di tempat yang paling tidak terduga. Aksara tulisan Hanayashiki yang tertera pada jembatan merupakan huruf retro yang jarang Anda lihat di masa kini di Jepang. Saya berjongkok supaya aksaranya bisa terbaca dan mengambil bidikan dari sudut rendah.

 

Saran: Cobalah menggunakan lingkaran bokeh dalam bidikan Anda untuk foto yang menarik

Walaupun foto cenderung menjadi bidikan pemandangan, tetapi, ini juga menarik untuk mempertimbangkan penggunaan foto sebagai gambar atau desain. Untuk gambar di bawah, daripada hanya sekedar menciptakan lingkaran bokeh dari lentera, saya memutuskan untuk lebih berani, dan menempatkan seluruh gambar di luar fokus. Hal ini menciptakan gambar yang terkesan misterius dan berdampak, serta membuat pemirsa menduga-duga.

Berikut ini sebagian saran tentang menciptakan lingkaran bokeh:
4 Langkah Mudah untuk Menangkap Lingkaran Bokeh Elusif!
Di Mana Saya Harus Fokuskan untuk Menangkap Lingkaran Bokeh yang Indah?

 

Nakamise (tidak ada lingkaran bokeh)

Sebelum
EOS 6D/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 70mm/ Aperture-priority AE (f/4, 1/80 det., EV+0,3)/ ISO 200/ WB: Auto
Bidik dalam fokus. Walaupun lentera tampak indah, namun fotonya pun secara jelas menggambarkan subjek yang tidak ingin saya tampilkan, seperti kerangka bangunan dan kabel listrik.

Nakamise (dengan lingkaran bokeh)

Setelah
EOS 6D/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 70mm/ Aperture-priority AE (f/4, 1/80 det., EV+0,3)/ ISO 200/ WB: Auto
Dengan menetapkan titik fokus secara dekat dengan menggunakan fokus manual (MF), saya memburamkan seluruh foto supaya semua yang menonjol dalam gambar ini adalah "lingkaran cahaya".

 

 

Kamera dan lensa yang direkomendasikan untuk fotografi jalanan

Jika Anda melakukan perjalanan, sebaiknya juga membawa kamera full-frame berperforma tinggi. EOS 6D, yang saya gunakan untuk bidikan ini, satu ukuran lebih kecil daripada kamera EOS seri-5D. Menyandingkan kamera ini dengan EF24-70mm f/4L IS USM akan memberikan kombinasi terbaik dari kualitas gambar dan portabilitas untuk fotografer yang bijak. Namun demikian, jika portabilitas yang ringkas begitu penting bagi Anda, saya akan merekomendasikan EOS M5 yang dikombinasikan dengan EF-M22mm f/2 STM.

EOS 6D dan EF24-70mm f/4 IS USM

 

Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!

 

Etica

Etica Co., Ltd. tidak hanya menjalankan kelas fotografi di bawah nama “Tanoshii Camera School", tetapi juga mengedit publikasi dan merencanakan media serta kegiatan terkait kamera dan fotografi, dengan fokus pada tema yang berhubungan dengan kepedulian terhadap anak, hewan dan makanan. Motto mereka yaitu "Photos make people happy!" (Foto membuat orang senang), dan mereka ikut mengkomunikasikan pesona kamera dan fotografi.

https://etica.jp/

Takeshi Akaogi

Sebagai fotografer, Akaogi terutama bekerja untuk majalah dan menulis buku yang memperkenalkan fotografi dan berbagai saran praktis. Ia juga mengajar di lokakarya fotografi.

http://www.flipphoto.org

Tanggapan

Tulis Komentar

 

Login untuk memberi tanggapan

ANDA TELAH LOG OFF DARI AKUN

Email dengan link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email SNAPSHOT anda yang terdaftar.

Setelah anda mengklik link, anda dapat login dengan detil login yang telah ada.

Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan sebagai anggota Komunitas CANON and SNAPSHOT. Kami akan berusaha memberikan konten yang bermanfaat dan seru untuk membantu anda mengembangkan bakat menjadi seorang fotografer handal!

IZIN UNTUK LANGKAH SELANJUTNYA

ID CANON anda akan disatukan dengan ID SNAPSHOT.

Link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email.

Silahkan mengetik kembali password anda agar kami dapat mengambil langkah selanjutnya.

Ketik password

Dengan mengklik disini, anda setuju untuk menyatukan CANON ID dan SNAPSHOT ID. Persetujuan tersebut tunduk pada SYARAT & KETENTUAN CANON AND SNAPSHOT. TERMS & CONDITIONS.