LOGIN/SIGN UP function is disabled for upgrade and maintenance. It will resume on 22/01/2022 10.30 AM SGT. Sorry for any inconvenience caused.
Close
Tips & Tutorials >> All Tips & Tutorials

Menyampaikan Karya Terbaik Anda: Saran Untuk Penyisihan & Penyuntingan Fotografi Olahraga

Menjadi fotografer yang baik bukan hanya tentang apa yang Anda bidik, tetapi juga yang Anda tentukan untuk ditunjukkan. Menentukan gambar terbaik untuk digunakan adalah bagian yang juga sangat penting dari alur kerja pasca-pemrosesan dan bahkan bisa memengaruhi reputasi sang fotografer! Fotografer olahraga dan editor foto Getty Images, Yong Teck Lim (IG: @yongtecklim)  berbagi sebagian hal penting yang harus Anda perhatikan ketika menyisihkan dan menilai bidikan Anda. (Dilaporkan oleh Yong Teck Lim dengan sejumlah foto yang dibidik untuk Getty Images)

 

Mengapa penting untuk menyisihkan bidikan Anda?

Dalam era fotografi digital dan kapasitas media memori yang lebih tinggi, kita sekarang mampu membidik dulu dan berpikir kemudian. Namun begitu, meskipun hal ini memang meningkatkan kemungkinan untuk mengabadikan momen yang istimewa, tetapi juga berarti bahwa Anda bisa menghasilkan ratusan atau bahkan ribuan gambar dari peristiwa yang sama. Hal ini tidak efisien maupun efektif untuk pasca-edit dan menggunakan begitu banyak foto. Menunjukkan gambar yang tidak begitu impresif, bisa meninggalkan kesan negatif terhadap keterampilan sang fotografer.

Oleh karena itu, menyisihkan gambar merupakan bagian yang penting dari alur kerja pasca-pemrosesan, di mana sang fotografer harus menentukan bidikan terbaik yang akan dikemukakan.

Bagian yang paling sulit adalah setelah Anda menghapus semua gambar yang bermasalah—bidikan di luar fokus, bidikan dengan keburaman yang tidak disengaja, dan lain sebagainya. Bagaimana Anda memisahkan bidikan yang cukup baik dari bidikan yang istimewa, serta memastikan bahwa Anda hanya menunjukkan gambar terbaik? Berikut ini sebagian saran berdasarkan pengalaman saya sendiri sebagai fotografer profesional dan editor foto.

 

1. Tentukan peak action (performa puncak)

Ada banyak jenis gambar yang bisa mengisahkan cerita dalam fotografi olahraga, dari foto atau gambar diam (still), luapan emosi (emotional moments) hingga ke jepretan foto saat perayaan dan segala lainnya. Tetapi, tidak ada yang bisa lebih baik dalam mengutarakan “ini adalah olahraga” dibandingkan bidikan performa puncak yang merangkum situasi permainan dalam satu gambar.

Untuk mengabadikan bidikan performa puncak, memerlukan pengetahuan tentang olahraga, subjeknya serta pengaturan waktu yang bagus. Tetapi, dalam alur kerja pasca-bidik, khususnya jika Anda baru saja memulai, hal ini bisa merupakan tantangan yang tidak terduga untuk menentukan bidikan mana yang mengutarakan “performa puncak”, dan mana yang bukan. Berikut ini ada dua contoh untuk menunjukkannya.


Bukan peak action (performa puncak)

©Yong Teck Lim/ Getty Images

Dalam bidikan ini, LeBron James, salah satu pemain basket top dunia, sedang mencari celah untuk melewati lawannya. Ini adalah komposisi yang baik dengan latar belakang bersih, yang membuatnya menonjol dalam bingkai, tetapi bagi mereka yang berkiprah dalam bidang olahraga tidak akan menganggap ini sebagai momen performa puncak.


Peak action (Performa puncak)

©Yong Teck Lim/ Getty Images
EOS-1D X Mark II/ EF70-200mm f/2.8L IS III USM @155mm, f/2.8, 1/2000 det., ISO 2500

Memang berbeda untuk bingkai pemain basket yang bersaing untuk menguasai bola, yang mengungkapkan intensitas permainan, di mana kedua pemain pantang menyerah. Situasi tersebut terabadikan, ketegangan dan kecemasan dalam interaksi serta luapan emosi pada wajah mereka, menyatu untuk ditangkap dalam bidikan performa puncak yang sangat menggetarkan.

 

Saran Pro: Apa yang perlu diperhatikan untuk bidikan performa puncak?

Yang pertama dan terutama, melakukan riset dan memahami olahraga yang sedang Anda liput, sampai performa atlet, semuanya merupakan hal yang sangat penting. Satu tolok ukur yang saya gunakan untuk menentukan keberhasilan bidikan performa puncak yaitu ekspresi wajah, karena saya selalu bertujuan untuk menangkap kesan persaingan dan perjuangan para atlet.

Secara pribadi, hal lainnya yang saya cari yaitu, apakah ada sejumlah elemen olahraga dalam bingkai. Contohnya, untuk olahraga bola seperti basket atau sepak bola, saya lebih suka kalau bolanya ada di dalam bingkai, sedangkan bidikan performa puncak yang ideal untuk atletik lintasan adalah bidikan seluruh tubuh atlet.

Menetapkan tolok ukur ini untuk bidikan performa puncak ideal saya, membuat saya lebih pasti untuk menentukan sesuatu, bukan hanya apa yang harus disisihkan, dan apa yang akan ditunjukkan, tetapi juga cara pendekatan saya terhadap performa puncak itu sewaktu membidik.

Baca juga:
Fotografi Olahraga: Cara Menegaskan Kecepatan Dengan Mengontraskan Suasana yang Tenang dengan Suasana yang Bergejolak

 

2. Amati latar belakang Anda

Latar belakang yang bersih adalah suatu default dalam fotografi olahraga, karena ini membantu mengisolasi subjek Anda agar menghasilkan bingkai gambar yang menonjol dengan lebih baik. Di atas semua itu, Anda juga ingin memastikan bahwa subjek dan latar belakang tidak berinteraksi dengan cara yang tidak diinginkan.

©Yong Teck Lim/ Getty Images

Dalam bidikan ini yang saya ambil pada tahun 2016, saya membuat kesalahan, tidak mempertimbangkan latar belakang dan pembingkaiannya. Dalam bingkai ini yang menunjukkan Landis Su dari Singapura dalam ajang lontar cakram, kurungan lontaran terlihat seakan menusuk Su. Selain itu, gambar ini diambil sebelum pelontaran, yang bukan merupakan performa puncak. Ini adalah bingkai yang pasti tidak akan pernah saya gunakan!

 

Saran Pro: “Mencari bidikan jitu” saat posisi Anda terbatas

©Yong Teck Lim/ Getty Images
EOS-1D X Mark II/ EF70-200mm f/2.8L IS III USM + Extender EF14x III@245mm, f/4, 1/2000 det., ISO 4000

Untuk olahraga dengan posisi foto yang terbatas, saya cenderung menemukan tempat di latar belakang yang sempurna bagi saya dan menunggu suatu aksi performa terjadi di area itu. Upaya yang saya upayakan secara sadar, ditambah faktor keberuntungan, biasanya cenderung membuahkan hasil yang sangat bagus.


©Yong Teck Lim/ Getty Images

Meski kerap kali ada saja elemen mengganggu yang muncul, dan dalam kasus ini, sulit menyiasatinya, terutama jika Anda adalah satu-satunya fotografer yang hadir. Dalam bingkai ini, Elina Svitolina sedang meluapkan gejolak kemenangannya, tetapi kru siaran yang hadir di sana mengganggu elemen di latar belakang. Ini menjadi gambar yang seyogianya harus saya buang, terutama jika Anda bekerja dalam satu tim dan memiliki beberapa sudut yang tercakup!

Baca juga:
Mengapa Lensa Super Telephoto Penting untuk Fotografi Olahraga?
3 Langkah untuk Menangkap Gambar Close-up Atlet yang Sedang Beraksi Secara Mengesankan

 

3. Potong (krop) secara bijaksana


Jangan mengkrop di tempat yang canggung

Sebagai aturan umum, cobalah menghindari mengkrop anggota badan orang di bagian tubuh yang canggung. Jangan sertakan bagian tubuh seperti jari tangan atau kaki yang membuatnya seakan-akan Anda membidik bingkai terlalu ketat. Apabila saya menyisihkan bidikan saya, gambar tersebut merupakan gambar yang biasanya saya langsung singkirkan.

Area pemotongan default saya adalah seputar leher, dada, siku, pinggang dan lutut.

©Yong Teck Lim/ Getty Images
EOS-1D X Mark II/ EF70-200mm f/2.8L IS III USM @ 200mm, f/4, 1/2000 det., ISO 160

Contoh yang bagus dari bingkai yang akan saya gunakan adalah saat Gaby Lopez melakukan tee shot, yang mengikuti parameter pemotongan default.


Pemotongan yang canggung

©Yong Teck Lim/ Getty Images

Dalam bingkai ini, sudut pemain golf dikrop sehingga membuatnya sebagai bidikan yang terlihat canggung. Ini adalah bingkai yang tidak akan pernah saya gunakan.


Saran Pro: Sisakan ruang yang melegakan

Apa pun yang saya lakukan, entah itu membingkai gambar langsung dalam kamera, atau saat pasca-pemotongan, saya selalu memastikan untuk menyisakan ruang yang melegakan dalam bingkai, pada bagian pojok. Hal ini menyediakan ruang bagi klien editorial untuk melakukan sesuatu, terutama apabila mereka mempertimbangkannya untuk paginasi dan publikasi.

 

Pemotongan yang lebih ketat bisa menambah dampaknya

©Yong Teck Lim/ Getty Images
EOS-1D X Mark II/ EF70-200mm f/2.8L IS III USM @175mm, f/3.5, 1/1600 det., ISO 5000


Sebelum pemotongan

©Yong Teck Lim/ Getty Images

Bahkan, apabila bingkai terlihat bagus apa adanya, namun memotongnya lebih ketat saat pasca-produksi, bisa meningkatkan dampak keseluruhan pada bidikan tersebut. Sebagai contoh, meskipun saya bisa membiarkan bingkai sundulan Ola Kamara dari Los Angeles Galaxy ini apa adanya, tapi, saya memilih untuk memotong lebih ketat demi menarik lebih banyak perhatian ke sundulan. Hal ini juga sejalan dengan preferensi saya untuk bidikan performa yang lebih ketat.


Saran Pro: Bangun naluri Anda mengenai apa yang pasti bagus hasilnya

Sama seperti semua bentuk seni, fotografi yang baik bisa subjektif, dan gaya yang berbeda dari fotografer lainnya. Hal yang sama juga berlaku untuk pemotongan. Mungkin sulit untuk menentukan apa yang kadang kala berhasil, jadi, akan membantu kalau Anda mencermati sejumlah gambar dari para fotografer dan editor yang Anda kagumi.

 

Bereksperimen dengan pemotongan yang tidak lazim

Terkadang, pemotongan yang tidak lazim, dapat membuat bingkai biasa tampak jauh lebih menarik, meskipun ini memerlukan eksperimen. Terkadang semuanya menghasilkan bidikan yang bagus, dan ada kalanya tidak begitu. Jangan takut untuk melakukan uji-coba, karena kalau tidak begitu, Anda tidak akan pernah tahu!


Bidikan saat seseorang sedang melakukan servis tradisional

©Yong Teck Lim/ Getty Images
EOS-1D X Mark III/ EF400mm f/2.8L IS II USM @ f/2.8, 1/1600 det., ISO 5000

Bidikan servis tradisional dalam tenis yang menampilkan kepala atau tubuh, lengan pemain saat servis dan bola berada dalam bingkai.


“Mengamati bola”: Variasi yang tidak lazim

©Yong Teck Lim/ Getty Images
EOS-1D X Mark III/ EF400mm f/2.8L IS II USM @ f/2.8, 1/1600 det., ISO 4000

Di sini, saya memilih cara yang ketat, menuntun perhatian ke mata pemain yang sedang mencermati bola.

Baca juga:
Cara Membuat Bidikan Olahraga Ekstrem yang Terbaik

 

Saran untuk alur kerja yang efisien

Untuk sebagian besar kerja editorial dewasa ini, Anda sering bersaing dengan fotografer dari agensi lainnya, jadi, kecepatan berperang penting di sini. Anda ingin agar gambar Anda hadir paling dulu sebelum orang lain!


1. Memanfaatkan sebaiknya saat rehat untuk meninjau gambar

Untuk menghemat waktu saat bertugas, saya memanfaatkan waktu rehat untuk menelusuri gambar yang saya ambil. Saya menggunakan fungsi Lock (Protect images) pada kamera apabila saya melihat gambar yang ingin saya prioritaskan.

Peringatan: Jangan terlalu terlena dalam hal ini—pastikan Anda siap membidik saat pemain beraksi kembali!


2. Identifikasi gambar terbaik dan menampilkannya paling dulu

Sebagian besar perangkat lunak image ingestion memungkinkan Anda memprioritaskan gambar yang diberi tanda ketika mengimpornya ke komputer Anda, yang mempercepat alur kerja pasca-pemrosesan. Apabila waktunya sempit, saya melakukan pasca-proses dan menyampaikan gambar tersebut lebih dulu, kemudian kembali lagi dan melihat untuk yang kedua kali secara penuh kalau saya masih punya waktu, memastikan bahwa saya tidak melupakan apa pun.


3. Penyuntingan/edit minimal

Apabila memproses gambar, saya melakukan penyuntingan yang sangat minim dalam batasan yang diizinkan berdasarkan panduan editorial. Koreksi yang dapat diterima, termasuk menyesuaikan pencahayaan dan mengoreksi keseimbangan warna.


Diedit

©Yong Teck Lim/ Getty Images
EOS-1D X Mark II/ EF400mm f/2.8L IS II USM @ f/3.2, 1/1600 det., ISO 2500


Unedited (Tidak Diedit)

©Yong Teck Lim/ Getty Images


Pahami hal ini: Integritas editorial dalam jurnalisme foto

Menghemat waktu bukan satu-satunya alasan untuk penyuntingan minimal. Jika Anda sedang melaksanakan tugas untuk agensi editorial dan publikasi, memanipulasi gambar dan secara digital menghapus elemen yang mengganggu dalam pasca-pemrosesan adalah hal yang sangat dilarang, karena hal itu bertentangan dengan integritas editorial dan dapat menyebabkan Anda kehilangan pekerjaan.

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi.

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

Yong Teck Lim

Yong Teck Lim

Seorang jurnalis multimedia dan penggemar berat olahraga keras, penjelajahan pertama Yong Teck ke dalam foto jurnalistik adalah sebagai mahasiswa jurnalis foto untuk situs berita olahraga, Red Sports, dan ia meliput acara olahraga lokal. Setelah meraih gelar Bachelor of Arts dalam bidang Komunikasi di SUNY Buffalo pada musim semi tahun 2015, ia bekerja pada beberapa agensi, termasuk Getty Images, Associated Press dan Reuters, serta klien komersial, seperti Fédération Equestre Internationale, Red Bull, Lagardère Sports and Entertainment, Singapore National Olympic Council dan Sport Singapore.

http://ytlim.com