Scheduled Maintenance: Some services on SNAPSHOT may not be available on 28 July 2019 from 1am to 4am. We apologise for any inconvenience caused.
Close
Inspirations >> Photos & People

Terinspirasi dari Canon: Interview The Bang Dzoel

2020-07-01

Bang Dzoel bukanlah seorang fotografer biasa. Terlahir tanpa ekstremitas, dia sudah menghadapi banyak tantangan, prasangka dan kesulitan selama masa kanak-kanak dan dewasanya. Tetapi sekarang, Bang Dzoel adalah seorang fotografer terkemuka yang mengambil foto di seluruh belahan dunia, menginspirasi banyak orang kemanapun dia pergi.

Bang Dzoel adalah seorang Fotografer asal Indonesia yang hasil karyanya sudah mengumpulkan pengakuan baik secara lokal, nasional dan internasional. Apakah itu fotografi potret, alam, ataupun pernikahan, dia mengerjakan beragam pekerjaan dari satu negara ke negara lain. Dia juga merupakan seorang mahasiswa hukum, pemain skateboard handal, dan pemain bass dan keyboard yang mahir.

Tidak perlu dikatakan lagi, Bang Dzoel sudah memengaruhi banyak orang dengan cara pandangnya pada karir dan kehidupan, membuktikan bahwa segala kesusahan bisa diatasi dengan motivasi dan kemauan yang besar.

Wawancara ini menawarkan sekilas mengenai kehidupan Bang Dzoel dan bagaimana fotografi sudah menolongnya menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dzoel, bisakah anda memperkenal diri anda pada kami, dari mana anda berasal dan apa yang anda lakukan?
Semoga kedamaian menyertaimu, nama saya Ahmad Zulkarnain. Saya juga biasa dipanggil dengan Bang Dzoel atau Zul, dan saya berasal dari Indonesia. Di Indonesia, sebagai seorang fotografer, saya selalu mencari momen-momen untuk ditangkap. Saya terus mencari sampai saya menemukan satu momen yang cukup luar biasa untuk difoto menggunakan kamera yang saya miliki.

Bagaimana rasanya ketika anda memegang kamera, menangkap foto-foto tersebut?Melalui fotografi, saya bisa mengetahui diri saya lebih jauh dan menemukan jati diri saya, membuat saya merasa luar biasa. Saya sudah mencoba menemukan bakat atau potensi dalam diri saya, apakah itu melalui musik, skateboard atau aktivitas lainnya saya sudah mencoba mempelajarinya. Tetapi melalui fotografilah dimana titik saya menemukan jati diri saya.

Apa yang anda pelajari mengenai diri anda sendiri dari fotografi?
Sebenarnya, saya sudah melalui banyak hal untuk menjadi seorang Fotografer Profesional. Membutuhkan cukup banyak waktu dalam mempelajari bidang ini untuk bisa mencapai tingkat ini – 5 sampai 6 tahun. Saya mengambil fotografi karena pekerjaan pertama saya sebagai fotografer foto identitas, seperti foto paspor, dan saya harus meminjam kamera. Ketika saya berganti pekerjaan, saya menggunakan kamera sebagai kredit. Kamera itu adalah Canon 1100D dan saya sudah menggunakannya selama satu sampai dua tahun. Setelah mempelajari lebih banyak keterampilan, saya memperbarui kamera saya. Saya akan mempelajari informasi atau mencari YouTube, jadi saya memahami fotografi dengan belajar sendiri. Sesudah itu, saya mendapatkan beasiswa untuk mempelajari Fotografi di Sekolah Fotografi Darwis Triadi di Jakarta. 

Gaya apa saja yang sudah anda kembangkan?
Saya cenderung mengarah pada kisah-kisah tradisional dan mengambil foto yang menampilkan cerita rakyat. Indonesia kaya akan budaya, jadi saya ingin mendokumentasikan dan mengambil fotonya untuk digunakan sebagai sumber pendidikan bagi generasi masa depan Indonesia.

Apa yang anda anggap sebagai pencapaian terbesar anda?
Pekerjaan terbesar saya sampai saat ini adalah mengambil foto produk, khususnya mode busana. Saya juga sudah mengambil foto potret CEO beragam organisasi.

Bisakah anda menjelaskan mengapa pengambilan foto produk sebagai salah satu pencapaian anda?
Pengambilan foto produk nyaman bagi saya karena saya tidak perlu merasakan panasnya sinar matahari – mereka berada dalam ruangan. Pekerjaan tidak terlalu melelahkan dan saya juga bisa mengendalikan pencahayaannya, menggunakan cahaya sebagaimana yang saya inginkan.

Jadi pengambilan foto tersebut adalah pencapaian terbesar anda karena anda masih bisa melakukan pengambilan foto pada medan dan kondisi yang lebih tidak stabil, seperti faktor cuaca dan lingkungan?
Sebenarnya, tidak ada halangan dan kesulitan dengan medannya. Bahkan sesungguhnya, hobi saya adalah berjalan-jalan dan mendaki gunung, mengambil foto di puncak gunung. Saya juga suka menyelam, snorkeling dan berselancar.

Anda juga memberi seminar untuk menginspirasi generasi muda. Apa saya yang anda bicarakan dalam seminar anda?
Saya selalu membicarakan mengenai memperkuat kejiwaan dan bagaimana kita harus mengapresiasi segala hal yang diberkati Tuhan pada kita. Sebagian besar dari kita cenderung lupa untuk bersyukur dan menghargai, dan hal inilah yang biasanya saya tekankan dalam seminar saya. Saya mungkin saja adalah seorang dengan keterbatasan, tetapi saya masih menghargai dan bersyukur pada berkah yang saya miliki. Sebagian besar orang tanpa disabilitas juga harus bisa lebih menghargai apa yang Tuhan sudah limpahkan karunianya pada mereka.

Apakah ada saran yang mau anda berikan pada fotografer muda dan pada orang-orang dengan disabilitas?
Pertama, jangan buang waktumu. Bila kamu hanya memikirkan cara memupuk diri tanpa mengambil tindakan apapun, maka hidupmu tidak akan ada maknanya. Kedua, kami tidak cacat, hanya berbeda. Bagi saya, keterbatasan sejati bukanlah kecacatan fisik, tetapi dari kecacatan perilaku orang tersebut.

Adakah anak muda yang pernah mendatangi anda untuk mengatakan bahwa anda adalah seorang figur yang menginspirasi?
Banyak.  Dan saya merasa bangga karena saya tidak menyangka bahwa pengaruh saya seluas ini. Pengaruh saya tidak terbatas di Indonesia saja, tetapi juga secara internasional. Pada tahun 2018, saya ikut serta dalam pameran foto yang diadakan di Istanbul, Turki, dan juga mengadakan pameran foto saya di Surabaya, Indonesia. Pada bulan Mei 2020, saya akan mengadakan pameran foto solo saya di Brasil.

Dan apakan anda menemukan hal lain mengenai diri anda sendiri?Seperti, apakah anda mendapat kepercayaan diri?
Ada kelompok teman saya yang menyemangati saya untuk mempelajari lebih jauh mengenai fotografi. Ada juga komunitas suportif yang memeluk saya saat saya menempuh pendidikan. Namun, dalam perjalanan saya menjadi seorang fotografer profesional – hanya lima sampai enam tahun dalam masa mempelajari fotografi – saya juga memiliki riwayat masa lalu yang sangat kelam. Dulunya, saya pernah mencoba bunuh diri sampai saya mencoba untuk mengubah pola pandangan saya, cara berpikir saya dan cara hidup saya sampai akhirnya saya bangkit untuk menjadi seperti saya saat ini.

Jadi bagaimana rasanya tumbuh besar untuk anda? Selama masa kanak-kanak saya sudah menerima perlakuan diskriminasi dari keluarga saya, sahabat saya, teman sekolah dan teman bermain saya. Lama-kelamaan, setelah sekolah dasar, saya berhenti bersekolah. Saya melanjutkan pendidikan saya di Sekolah Luar Biasa, sebuah sekolah khusus untuk anak-anak dengan disabilitas. Disana saya mempelajari pendidikan psikis dan mendapatkan kepercayaan diri. Sesudah itu, saya melanjutkan pendidikan saya di sebuah universitas, mengambil jurusan hukum.


Canon EOS 6D, EF50mm f/1.8L STM lens, f/1.8, 50mm, 1/640 sec, ISO100

Bila anda merasa cukup baik untuk berbagi, hal apakah yang menjadi momen paling menyakitkan atau merupakan pengalaman yang paling memilukan bagi anda?
Satu momen yang paling menyayat hati dalam hidup saya adalah saat kedua orang tua saya tidak menerima saya sebagai putra mereka dan saya dibuang ke sungai dan ditinggalkan, seperti itu saja.

Apa yang anda rasakan mengenai hal tersebut?
Saya merasa bangga. Saya bangga karena tindakan kedua orangtua saya, menjadi efek bumerang untuk saya. Hal ini menjadi motivasi. Sebuah motivasi untuk saya berdiri dan membuktikan pada Indonesia dan dunia bahwa disabilitas bukanlah sebuah virus, disabilitas bukanlah sebuah penyakit. Keterbatasan ini bukan sampah. Sebenarnya, orang-orang dengan disabilitas hanyalah orang-orang berbeda dengan kemampuan yang berbeda dan mereka memerlukan kesempatan untuk bisa terus maju dalam hidup dan peluang bagi mereka untuk bekerja. Mereka membutuhkan peluang untuk menemukan masa depan mereka.

Sangatlah luar biasa walaupun anda ditinggalkan di sungai, mereka menemukan rasa kasih saya dan menerima anda kembali, dan akhirnya anda bahkan membentuk ikatan yang kuat dengan mereka, khususnya ibu anda. Bagaimana anda dan orang tua anda berhasil membangun ikatan yang kuat itu?
Setelah beberapa lama, mereka menyadari bahwa saya dipercayakan pada mereka oleh Tuhan; hal ini adalah kerja dari takdir. Pada akhirnya, mereka mulai mengakui keberadaan saya, walaupun dengan segan hati, sampai akhirnya tumbuh menjadi sebuah hubungan yang dalam.

Jadi, apakah ada seseorang yang memotivasi anda, atau membantu anda selama hidup anda?
Ya, ibu saya! Beliau selalu berkata pada saya bahwa saya adalah ‘yang terpilih’: “Kamu adalah seorang yang terpilih dan suatu saat pasti menjadi besar. ”Dan ini adalah kata-katanya yang selalu saya pegang sampai hari ini, bahkan setelah kematiannya.

Kapankah ibu anda meninggal dunia, dan bagaimana?
Ibu saya meninggal dunia 4 tahun lalu karena kanker.

Sedih sekali. Bagaimana anda bisa melaluinya dan mengatasi kehilangan tersebut?Masa tersebut adalah masa yang sangat, sangat kacau untuk saya karena beliau adalah motivator utama saya dan saya kehilangan segalanya. Untuk bangkit lagi, butuh waktu satu tahun untuk saya. Dan saat ibu saya menghembuskan nafas terakhirnya, saya masih belum bekerja, sehingga saya tidak mempunyai sumber penghasilan. Dan dari sana saya berpikir, bila saya terus memikirkan kehilangan saya, saya tidak akan dapat melanjutkan kehidupan saya. Apa yang lalu akan terjadi pada keluarga saya?Apa yang akan terjadi pada ayah saya?Jadi saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus bangkit dan bekerja, mencari nafkah dan membantu ayah saya.


Canon EOS 5D Mark II, EF50mm f/1.8L STM lens, f/2.8, 50mm, 1/250 sec, ISO200

Apakah setelah itu adalah saat dimana anda mengambil fotografi?Bagaimana anda menjadi seorang fotografer?
Ya, kejadian itu hanya setelah meninggalnya ibu saya yang membuat saya fokus mempelajari fotografi.

Apakah fotografi mengingatkan anda pada ibu anda?
Hmm, iya. Di masa lampau, ibu saya memiliki kemauan untuk saya memiliki pekerjaan yang tidak memerlukan kerja fisik, seperti bekerja di lapangan. Ini karena saya tidak bisa bekerja di lapangan. Dan minimal, anda bekerja dengan kecerdasan anda. Melalui fotografilah saya akhirnya menemukan semuanya. 

Apa cobaan terberat yang anda hadapi selama belajar menjadi seorang fotografer?
Ada banyak tantangan dan kesulitan yang sudah saya hadapi. Salah satunya adalah diskriminasi yang saya hadapi di antara para fotografer lainnya. Ada juga masa dimana saya ingin menghadiri sebuah mata kuliah namun tidak diperbolehkan. Ketika saya menanyakan alasannya, mereka berkata karena saya adalah penyandang disabilitas. Namun, saya tidak berhenti di sana karena saya harus menjelajahi potensi diri saya. Salah satu cara melakukannya adalah melalui guru terbaik saya: Google dan YouTube.

Apakah hal tersebut adalah tantangan terberat yang anda hadapi, secara teknis? Dan bagaimana anda melalui semua rintangan tersebut?
Sebenarnya tidak ada teknik spesifik yang saya gunakan, saya hanya beradaptasi. Jadi dari kamera lama sampai kamera baru, saya harus beradaptasi, karena saya tidak hanya menggunakan jari saya untuk menjalankan kamera DSLR tersebut, saya juga menggunakan mulut saya.

Anda menyebutkan bahwa anda pernah jatuh dari tebing ketika mengambil sebuah foto! Bisakah anda membagikan pengalaman tersebut?
Itu terjadi karena saat itu merupakan kali pertama saya mempelajari fotografi. Jadi, sebelum fotografi busana dan produk-produk, saya awalnya mempelajari fotografi lanskap. Saya tahu bahwa medan di sekitar air terjun tidaklah mudah dan saya harus pergi melewati tempat tersebut. Pada akhirnya, saya jatuh dari ketinggian 10 meter. Namun, hal pertama yang saya lakukan bukanlah memeriksa apakah ada cedera pada tubuh saya, tetapi kamera saya. 


Canon EOS 6D, EF70-200mm f/4L USM lens, f/4, 184mm, 1/200 sec, ISO640

Bisakah anda mendeskripsikan diri anda? Apakah anda menyenangkan? Suka berpetualang? Suka tertawa, atau serius?
Dalam Bahasa Indonesia, mungkin ‘Goplak’.  ‘Goplak’ adalah kata yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan orang-orang yang gemar bersenang-senang. Saya bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja, tanpa mempertimbangkan apakah orang tersebut memiliki disabilitas atau tidak.

Apakah teman-teman anda memanggil anda ‘Goplak’?
Oh iya, banyak dari mereka yang begitu.

Jadi anda suka pergi mendaki gunung dan snorkeling, tapi apakah anda tidak merasa takut?
Tidak, saya tidak takut. Sesungguhnya, dengan kerelaan Tuhan, di masa depan, saya ingin mencoba fotografi bawah laut. 

Apakah alat favorit anda?
Alat favorit saya adalah Canon 5D Mark II, Canon 6D, dan Canon 1DX.

Apakah berat bagi anda saat anda membawa peralatan tersebut?
Tidak.  Saya bahkan pernah menggunakan Canon 5D Mark II dengan lensa telefoto F2. 8. Kamera itu adalah kamera favorit saya.

Jadi anda orang yang kuat, ya?
Mungkin, hah!

Apakah ada hal lain yang mungkin anda mau sampaikan?
Pada dasarnya, saya ingin mengucapkan terima kasih pada dukungan Canon selama tiga tahun terakhir. Beberapa alat-alat saya ada karena dukungan yang saya terima dari Canon Indonesia. Ada kejadian baru-baru ini dimana saya memanggil Merry Harun dari Canon Indonesia untuk meminta bantuan mereka karena saya membutuhkan speedlite untuk perjalanan saya ke Singapura. Dia setuju dan bahkan mengirimkannya ketika saya sedang menginap di Banyuwangi.

Wah, pengantaran khusus, pasti menyenangkan!Apakah ada kata-kata menginspirasi yang ingin anda berikan bagi mereka yang membaca Q&A ini?
Teruslah bekerja dan jangan pernah menyerah!


Anda bisa melihat foto-foto Bang Dzoel di Instagramn. Tontonlah versi video wawancara Bang Dzoel dengan Canon disini: