Produk

DSLR Ringkas Memikat, Bahkan Pengguna Kamera High-end pun Merasa Puas

Berikut ini ulasan EOS 100D dan sejumlah contoh aktual yang disampaikan pengguna profesional EOS 5D Mark III dan EOS M untuk memberikan gambaran lengkap dari model yang ambisius ini. EOS 100D adalah kamera SLR digital paling ringkas dan ringan yang diperlengkapi dengan sensor ukuran APS-C*. (Dilaporkan oleh: Yurika Kadoi)
* Mulai 1 Maret, 2013, Canon

EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM/ FL: 85mm/ Aperture-priority AE (1/40 det., f/5.6, -0.3EV)/ ISO 400/ WB: Auto

Bidikan close-up bunga-bunga yang tumbuh di kebun, di luar sebuah restoran. Karakteristik efek bokeh kamera SLR yang memikat, menambahkan sentuhan lembut dan ketenteraman ke ekspresinya.

Operabilitas Intuitif Layar Sentuh EOS 100D yang Istimewa

EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM/ FL: 46mm/ Aperture-priority AE (1/250 det., f/6,3, +0.7EV)/ ISO 400/ WB: Auto

Air hujan menyebarkan kelopak bunga ke seluruh permukaan meja, menyiratkan suasana musim dengan sentuhan memikat. Yang penting di sini adalah menemukan posisi pemotretan yang mempertimbangkan sudut kursi.

Kemungilan Mengagumkan untuk Genuine SLR

Ketika pertama kali saya menggenggam EOS 100D, terus terang, kesan saya adalah bahwa ini "kecil untuk kamera SLR." Alasannya, karena saya membandingkannya dengan EOS M mirrorless (nircermin), yang belakangan ini sering saya gunakan.
Namun, berbeda dengan kesan pertama yang “agak rata-rata”, setelah benar-benar menggunakannya, saya langsung terkesan oleh keringanan serta keringkasannya, mengingat kinerja tinggi model SLR yang seutuhnya ini. Ini mengingatkan saya, bahwa EOS 100D memang merupakan kamera SLR. Saya kagum oleh kenyataannya, bahwa selain penggunaan viewfinder optik, kamera ini terasa pas di telapak tangan. Sementara model mirrorless menjadi pendamping yang menyenangkan dan berharga untuk mengambil bidikan biasa, viewfinder optik ternyata praktis ketika saya ingin memfokuskan secara cermat pada komposisi atau menangkap subjek secara cepat. Selain itu, juga terasa berbeda ketika saya memotret seraya menilik melalui viewfinder.

Salah satu fitur paling menyenangkan adalah Silent shooting mode (pemotretan senyap). Tersedia pada EOS 5D Mark III yang selama ini saya gunakan, fitur ini telah menjadi favorit saya karena saya bisa melanjutkan pemotretan tanpa menarik perhatian yang tidak perlu dari orang-orang di sekitar. Saya sungguh gembira bahwa fitur ini sekarang terdapat juga pada model pemula seperti EOS 100D.

Keringkasan EOS 100D bukan satu-satunya yang menyenangkan para penggunanya. Dilengkapi dengan Silent shooting mode yang juga tersedia pada model EOS high-end, Anda sekarang dapat melanjutkan pemotretan tanpa mengganggu suasana di sekitar. Kedua kualitas inilah yang membuat EOS 100D sebagai kamera jepret yang istimewa.

Sebagian besar fitur bisa dikendalikan pada layar sentuh, dan pengoperasiannya bersifat intuitif serta mudah dipahami. Bukan hanya itu. Tombol terpisah telah dialokasikan ke pengaturan pemotretan yang paling sering digunakan, seperti exposure compensation dan ISO speed, sehingga dapat mudah dan cepat disesuaikan. Karena kerangkanya yang ringkas, jari-jari dapat mencengkeram genggamannya dengan erat, sementara permukaan berbahan karet memberikan pegangan tangan yang kencang.

Di samping menyesuaikan pengaturan kamera melalui pengoperasian layar sentuh, ada juga tombol terpisah yang ditetapkan ke sejumlah fungsi yang kerap digunakan oleh pengguna kamera high-end, seperti ISO speed dan exposure compensation. Selain itu, genggamannya kokoh dan mudah digunakan.

Selama pemotretan Live View, Anda dapat mengecek efek filter Creative dalam waktu nyata pada monitor LCD belakang. Anda mungkin cenderung lebih sering mencoba-coba fungsi seperti saya, tapi hati-hati, jangan sampai menghabiskan daya baterainya. Untuk kualitas gambar, sensor ukuran APS-C dan DIGIC 5 image processor menjadi kombinasi sempurna.
Secara keseluruhan, menurut saya, EOS 100D adalah model yang sangat memuaskan, baik mobilitasnya yang unggul maupun fiturnya yang serba menyenangkan. Sayang kalau hanya digunakan sebagai model tingkat pemula. Saya merekomendasikannya bagi semua pengguna.

AF dapat dioperasikan dengan menggunakan layar sentuh selama pemotretan Live View, dan responsnya pun cepat. Sebelum mengambil foto, Anda dapat mengecek efek filter Creative, yang menambahkan kesan artistik pada pemandangan sehari-hari. Dengan EOS 100D, saya mungkin akan semakin terlena dalam memotret.

Evaluasi Yurika Kadoi tentang EOS 100D sebagai "Kamera Jepret"

Butir 1: Kinerja AF dengan kecepatan dan presisi tinggi

Butir 2: Dapat mengoperasikan fungsi terkait exposure

Butir 3: Daya baterai tahan lama

Titik AF tipe single cross di bagian tengah mungkin tidak meyakinkan jika kita mempertimbangkan jenis pemandangan berbeda untuk ditangkap, tetapi tipe ini berfungsi sempurna untuk snapshot (bidik langsung). AF selama pemotretan Live View juga cepat. Sebagai pengguna model SLR higher-end, betapa menggembirakan bahwa berbagai fungsi terkait exposure memiliki tombol tersendiri. Baterai yang sama dapat bertahan lama untuk pemotretan bidik-langsung sepanjang hari. Seandainya saya bisa memperoleh lebih banyak, saya berharap penyesuaian khusus fungsi dapat ditingkatkan.

EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM/ FL: 18mm/ Aperture-priority AE (1/160 det., f/8, +0.3EV)/ ISO 400/ WB: Auto

Dalam gambaran yang menarik ini, meskipun cerah, tapi warna kuning pintu yang menawan mata, tertutupi oleh tanaman sehingga fungsi pintu itu sendiri menjadi hilang. Saya membidik dari atas untuk memunculkan kontras antara warna kuning dan hijau.

EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM/ FL: 35mm/ Creative Auto (1/50 det., f/5)/ ISO 160/ WB: Filter Auto/ Creative: Toy camera effect

Foto ini diambil di pemakaman dengan kesan fotogenik yang menggugah sanubari. Untuk menciptakan suasana bagaikan film, saya memilih filter Creative [Toy camera effect] untuk bidikan ini.

EF-S15-85mm f/3.5-5.6 IS USM/ FL: 85mm/ Aperture-priority AE (1/1.250 det., f/5,6, -0.3EV)/ ISO 400/ WB: Filter Auto/ Creative: Grainy B/W

Dengan menggunakan filter Creative [Grainy B/W], saya mampu memunculkan bayangan pada trotoar yang basah, seraya menekankan suasana hujan dengan memanfaatkan langit (grainy sky) seperti yang diniatkan.

Yurika Kadoi

Lahir di Toyama dan lulusan dari Fakultas Teknik, Kanazawa University, Kadoi telah bekerja untuk produsen perlengkapan listrik sebelum menjadi asisten di studio foto. Setelah itu, ia menjadi fotografer freelance, dan sekarang sedang aktif mengerjakan beragam luas karyanya dari potret hingga foto diam (still photo) untuk film.

Tanggapan

Tulis Komentar

 

Login untuk memberi tanggapan

ANDA TELAH LOG OFF DARI AKUN

Email dengan link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email SNAPSHOT anda yang terdaftar.

Setelah anda mengklik link, anda dapat login dengan detil login yang telah ada.

Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan sebagai anggota Komunitas CANON and SNAPSHOT. Kami akan berusaha memberikan konten yang bermanfaat dan seru untuk membantu anda mengembangkan bakat menjadi seorang fotografer handal!

IZIN UNTUK LANGKAH SELANJUTNYA

ID CANON anda akan disatukan dengan ID SNAPSHOT.

Link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email.

Silahkan mengetik kembali password anda agar kami dapat mengambil langkah selanjutnya.

Ketik password

Dengan mengklik disini, anda setuju untuk menyatukan CANON ID dan SNAPSHOT ID. Persetujuan tersebut tunduk pada SYARAT & KETENTUAN CANON AND SNAPSHOT. TERMS & CONDITIONS.