Blog Fotografer

Mendapatkan Tugas Kerja Fotografi Impianku - Aku Bisa Berkelana

Dalam perjalanan mencapai fotografer lanskap ternama yang sudah diraihnya sekarang, GOTO AKI harus mengambil kerja yang lebih banyak demi membakar semangatnya: fotografi perjalanan. Dalam artikel ketiga serial ini, ia menceritakan, bagaimana ia mencapai prestasi berikutnya dalam kariernya - mendapatkan tugas impian itu yang membuka pintu ke berbagai proyek, sehingga ia bisa berkelana. (Naskah: GOTO AKI)

EOS 5D Mark III/ EF24mm f/1.4L II USM/ FL: 24mm/ Aperture-priority AE (f/8.0, 1/10 det., EV-1,7)/ ISO 400/ WB: Daylight
Lokasi: Di pinggiran Yellowknife, Kanada
Pagi hari yang menghampiri setelah semalaman memotret bintang kejora dalam suhu di bawah 10 hingga 15 derajat. Pemotretan diakhiri setelah terbit sinar mentari pagi.

 

Akhirnya, dapat juga pekerjaan yang mengharuskan saya berkelana!

Pada tahun 2005, saat memasuki tahun ke-5 sebagai fotografer profesional, saya sering merenung, bertanya-tanya kepada diri sendiri, apa lagi yang sebaiknya saya potret untuk selanjutnya. Walaupun saya menikmati pekerjaan mengambil foto komersial, namun perjalanan saya berkeliling dunia itulah yang semula menuntun saya untuk memulai fotografi, jadi memang wajar kalau saya cenderung memilih lagi "perjalanan" dan "pengembaraan".

Bahkan, setelah menjadi fotografer profesional selama beberapa tahun, saya masih memiliki keraguan dan kesulitan. Namun, saat semuanya muncul ke permukaan, saya akan mendengarkan bisikan suara dalam hati saya dan mengikutinya.

Bagaimana dengan Anda, para pembaca setia? Apa yang dikatakan oleh bisikan suara dalam hati Anda?

Hati saya mengatakan bahwa saya menginginkan pekerjaan yang memungkinkan saya berkelana, mengembara ke mana saja! Karena itu, saya bilang ke editor, penulis, dan direktur yang selama ini saya bekerja bersama mereka, meminta mereka untuk memberi tahu saya kalau mereka mendengar pekerjaan apa pun yang melibatkan perjalanan, dan saya juga memberi tahu mereka kalau saya bisa berbahasa Inggris. Pada waktu yang bersamaan, saya menelepon ke bagian redaksi majalah perjalanan, dan begitulah caranya saya mendapatkan berbagai tugas yang berkaitan dengan perjalanan saya.

Pada salah satu penugasan, saya bertanggung jawab untuk menyusun artikel dengan tema tentang budaya mi di Vietnam, yang membawa saya ke Hanoi, Hue, Da Nang, Hoi An, dan Ho Chi Minh. Dalam satu minggu, saya memotret dan makan 56 mangkuk mi, seperti pho, banh da, bun cha, dan mi quang. Bahkan, kalau sekarang saya melihat artikel yang saya hasilkan sebanyak 12 halaman untuk pekerjaan itu, seolah-olah baru saja kemarin terjadinya.

Artikel berjudul "Vietnam Noodle Tour" yang dihasilkan setelah saya menempuh 2000 km pengembaraan.

 

Selama perjalanan, saya membidik subjek yang sangat bervariasi, seperti lanskap, bangunan, makanan, hotel, model, dan produk. Waktu saya cukup sempit untuk melakukan setiap pembidikan, yang menuntut kemampuan untuk menentukan kondisi pencahayaan di tempat. Pengetahuan tata-cara dan pengalaman yang saya peroleh melalui pekerjaan sejak memulai sebagai seorang profesional, misalnya, mengetahui cara merekatkan kertas putih ke dinding untuk memantulkan lampu kilat apabila memotret di toko yang penerangannya redup, merupakan hal yang praktis dalam situasi seperti ini.

Kamera utama saya waktu itu EOS-1Ds Mark II, yang menghasilkan gambar serba indah, bahkan saat dicetak pada ukuran A3—ukuran bentangan penuh kertas majalah. Saya menggunakan lensa makro, sudut lebar hingga lensa L telefoto, dan selalu membawa dua lampu kilat yang bisa dijepit. Semua perlengkapan ini saya simpan di dalam tas kamera jenis ransel yang saya bawa sewaktu berkelana ke seluruh dunia untuk memotret.

 

EOS-1Ds Mark II
Dirilis pada bulan November 2004..
Dilengkapi dengan sensor CMOS full-frame, 16,7 megapiksel, spesifikasi tertinggi yang layak dibanggakan di antara kamera DSLR lain yang tersedia pada waktu itu.

 

Untuk melanjutkan kerja dalam fotografi, yang juga penting yaitu, tidak hanya mengambil foto, tetapi juga memiliki prakarsa dan memberi tahu orang lain, bahwa Anda ingin melakukan hal itu.
Jika Anda dapat membuat janji bertemu dengan direktur dan editor, sebaiknya menemui mereka secara tatap muka. Meskipun, mungkin lebih mudah untuk menghubungi orang tersebut secara online, namun saya lebih mementingkan pada komunikasi tatap-muka, bahkan sampai sekarang, supaya Anda dapat mengutarakan penjiwaan dan penghayatan Anda.

(Kiri) EOS-1Ds Mark II/ EF24-70mm f/2.8L USM/ FL: 46mm/ Aperture-priority AE (f/11, 8,0 det., EV-0,7)/ ISO 200/ WB: Auto
(Kanan) EOS-1Ds Mark II/ EF24-70mm f/2.8L USM/ FL: 57mm/ Aperture-priority AE (f/2.8, 1/40 det., EV-0,7)/ ISO 400/ WB: Auto
Lokasi: Pulau Bora Bora, Tahiti
Gambar dari Tahiti ditampilkan dalam majalah perjalanan bagi kaum wanita. Saya diminta untuk mengambil foto yang memiliki suasana tenteram.

 

EOS-1Ds Mark II/ EF17-40mm f/4L USM/ FL: 40mm/ Aperture-priority AE (f/16, 1/160 det., EV±0)/ ISO 200/ WB: Daylight
Lokasi: Gold Coast, Australia
Pemandangan dari udara ini diambil dari helikopter pada ketinggian 420m, untuk majalah perjalanan.

 

EOS 5D Mark III/ EF24-70mm f/2.8L USM/ FL: 24mm/ Aperture-priority AE (f/8, 1/640 det., EV+0,3)/ ISO 200/ WB: Daylight
Lokasi: Dinosaur Provincial Park, Alberta, Kanada
Untuk ditampilkan pada majalah perjalanan di Kanada. Saya membidiknya sedemikian rupa untuk menampilkan bebatuan karang agar tampak seakan benda hidup.

 

EOS 5D Mark III/ EF24-70mm f/4L IS USM/ FL: 70mm/ Aperture-priority AE (f/6.3, 1/1000 det., EV±0)/ ISO 400/ WB: Daylight
Lokasi: Tepi Danau di Plitvice, Kroasia
Pola permukaan air adalah pantulan awan.

 

Dalam artikel perjalanan, menangkap berbagai variasi selama waktu dan pencahayaannya memungkinkan

Majalah dan pekerjaan online melibatkan kolaborasi dengan para perancang, direktur, dan penulis. Untuk artikel perjalanan sebanyak 10 hingga 20 halaman, penampilan foto bisa sangat berubah, tergantung pada tata-letak dan ukuran fotonya. Bahkan, jika foto itu sendiri sangat menonjol, mungkin saja foto itu tidak diperlukan dalam koleksi yang terdiri atas beberapa foto. Jika terdapat teks yang dirancang untuk foto, dengan menempatkan dua foto yang diambil pada lokasi yang sangat berbeda, bisa menceritakan kisah yang berlainan. Untuk membuat artikel berkualitas tinggi, yang penting adalah mengambil foto yang bisa Anda gunakan.

Artikel pertama yang merupakan tanggung jawab saya, adalah untuk majalah WINGSPAN ANA. Semua ini dibidik di Pulau Goto, Prefektur Nagasaki. (Karena pulau-pulau ini semula merupakan tempat bagi para utusan yang menunggu datangnya angin yang menguntungkan, maka, tema yang diberikan kepada saya adalah "Wind" yang berarti angin.)

 

Apabila saya mengambil gambar yang bagus pada pemandangan yang dibidik, saya tidak berhenti membidiknya di sana saja. Alih-alih, saya berupaya mendapatkan variasi bidikan yang serba hebat. Jika waktu dan kondisi pencahayaan memungkinkan, saya mengambil variasi bidikan dengan memanfaatkan orientasi lanskap dan potret wajah, sudut lebar, lensa standar dan zoom, dari sudut rendah dan dari pantauan udara, dll., untuk memastikan bahwa pasca-produksi berjalan mulus. Satu artikel tunggal dituntaskan dari kombinasi berbagai elemen selain foto yang saya ambil, misalnya tagline, tulisan dan diagram. Oleh karena itu, meskipun berkonsentrasi untuk membidik suatu pemandangan, namun saya juga mementingkan hasil akhir dari perpaduan berbagai elemen tersebut.

 

Permintaan untuk memotret dari majalah perjalanan yang menjadi cita-cita saya

Di antara sekian banyak majalah perjalanan yang beredar, yang menjadi cita-cita saya adalah, bekerja untuk majalah penerbangan WINGSPAN, yang diterbitkan oleh ANA, salah satu maskapai penerbangan besar di Jepang. Pada bulan Mei 2007, setelah mengasah keterampilan dan memiliki sejumlah pengalaman, serta cukup percaya diri dalam fotografi perjalanan, saya menghubungi editor WINGSPAN dan pergi menemuinya. Saya hanya membawa satu portofolio perjalanan dan 5 foto lanskap untuk diperlihatkan kepadanya. Dua minggu setelahnya, saya menerima permintaan dari bagian redaksi WINGSPAN untuk memotret serangkaian foto yang memperkenalkan budaya Tokyo. Akhirnya, saya dapat melaksanakan pekerjaan untuk majalah yang selama ini saya impikan untuk bekerja di sana.

Menemui seseorang yang tidak Anda kenal, bisa membuat Anda senewen, tetapi, tidak ada ruginya, meskipun mereka menolak Anda. Sebaliknya, foto yang Anda beberkan bisa menjadi pembuka pintu, meskipun Anda tidak punya koneksi. Mungkin, itu adalah salah satu hal terbaik mengenai pekerjaan dalam fotografi.

WINGSPAN memiliki khalayak pembaca yang tinggi (diperkirakan sekitar 2,4 juta pembaca per bulan), jadi, saya sangat menantikan, bagaimana reaksi pembaca terhadap sejumlah artikel, setiap bulan. Untuk fitur perjalanan dari sebuah majalah, saya berkesempatan berkelana ke berbagai negara dan kawasan, seperti Taiwan, Vietnam, Tiongkok, India, Myanmar, Filipina, Amerika Utara dan Eropa, untuk memotret budaya dan lanskap mereka. Impian yang selama ini saya angankan saat masih menjadi mahasiswa di universitas, untuk terus berkelana kalau saya menjadi seorang fotografer, pada akhirnya menjadi kenyataan.

 

Bagian artikel mengenai Da Lat, Vietnam, yang diberi tema berdasarkan budaya makanan mereka, santapan bunga.

 

Tanpa disadari, saya telah berkelana ke lebih dari 50 negara. Pada tahun 2008, saya mengganti kamera favorit saya, EOS-1Ds Mark II, dan meningkatkannya ke EOS-1Ds Mark III. Kemudian, saya menggunakan EOS 5D Mark II sebagai kamera cadangan. Saya telah mencapai suatu titik, di mana saya tidak hanya dapat menggunakan perlengkapan yang memuaskan saya, tetapi juga memotret cukup banyak untuk membuat saya merasa terpenuhi.

 

EOS-1Ds Mark III
Dirilis pada bulan November 2007.
Penerus EOS-1Ds Mark II, yang dirilis pada bulan November 2004.
Kamera ini dilengkapi dengan sensor CMOS full-frame 21,1 megapiksel dan prosesor gambar DIGIC 3.

 

EOS 5D Mark II
Dirilis pada bulan November 2008..
Model generasi kedua seri 5D bagi amatir yang sudah mahir.
Kamera ini dilengkapi dengan sensor CMOS full-frame 21,1 megapiksel dan prosesor gambar DIGIC 4.

 

Bacalah artikel SNAPSHOT lainnya dari GOTO AKI di sini:
5 Alasan Mengapa EOS 5D Mark IV Ideal untuk Fotografi Lanskap
4 Kunci Membidik Lanskap Menjelang Fajar
EF16-35mm f/4L IS USM: Fotografi Lanskap yang Mencengangkan, Bahkan Dengan Pemotretan Genggam

 

Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!

 

GOTO AKI

Lahir pada tahun 1972 di Prefektur Kanagawa dan lulus dari Sophia University serta Tokyo College of Photography. Goto menerbitkan koleksi karya foto yang berjudul "LAND ESCAPES" dan juga terlibat secara aktif dalam pembuatan karya seperti “water silence” suatu instalasi yang menggabungkan foto dengan video.

http://gotoaki.com/

Tanggapan

Tulis Komentar

 

Login untuk memberi tanggapan

ANDA TELAH LOG OFF DARI AKUN

Email dengan link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email SNAPSHOT anda yang terdaftar.

Setelah anda mengklik link, anda dapat login dengan detil login yang telah ada.

Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan sebagai anggota Komunitas CANON and SNAPSHOT. Kami akan berusaha memberikan konten yang bermanfaat dan seru untuk membantu anda mengembangkan bakat menjadi seorang fotografer handal!

IZIN UNTUK LANGKAH SELANJUTNYA

ID CANON anda akan disatukan dengan ID SNAPSHOT.

Link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email.

Silahkan mengetik kembali password anda agar kami dapat mengambil langkah selanjutnya.

Ketik password

Dengan mengklik disini, anda setuju untuk menyatukan CANON ID dan SNAPSHOT ID. Persetujuan tersebut tunduk pada SYARAT & KETENTUAN CANON AND SNAPSHOT. TERMS & CONDITIONS.