Temukan yang Anda cari

atau cari melalui

topik

Article
Article

Article

e-Book
e-Book

e-Book

Video
Video

Video

Campaigns
Campaigns

Campaigns

Architecture
Kamera Saku

Kamera Saku

Architecture
DSLRs

DSLRs

Architecture
Videografi

Videografi

Architecture
Astrofotografi

Astrofotografi

Architecture
Tanpa Cermin

Tanpa Cermin

Architecture
Fotografi arsitektur

Fotografi arsitektur

Architecture
Teknologi Canon

Teknologi Canon

Architecture
Fotografi cahaya minimal

Fotografi cahaya minimal

Architecture
Wawancara fotografer

Wawancara fotografer

Architecture
Fotografi lanskap

Fotografi lanskap

Architecture
Fotografi makro

Fotografi makro

Architecture
Fotografi olahraga

Fotografi olahraga

Architecture
Fotografi Wisata

Fotografi Wisata

Architecture
Fotografi bawah air

Fotografi bawah air

Architecture
Konsep & Aplikasi Fotografi

Konsep & Aplikasi Fotografi

Architecture
Fotografi Jalanan

Fotografi Jalanan

Architecture
Kamera Mirrorless Full-frame

Kamera Mirrorless Full-frame

Architecture
Lensa & Aksesori

Lensa & Aksesori

Architecture
Nature & Wildlife Photography

Nature & Wildlife Photography

Architecture
Fotografi Potret Wajah

Fotografi Potret Wajah

Architecture
Fotografi Malam

Fotografi Malam

Architecture
Fotografi Hewan Piaraan

Fotografi Hewan Piaraan

Architecture
Solusi Pencetakan

Solusi Pencetakan

Architecture
Ulasan produk

Ulasan produk

Architecture
Fotografi Pernikahan

Fotografi Pernikahan

Inspirations >> Pajangan Fotografer

Edisi Spesial Fotografi Pernikahan Canon: Dwie Haryo dari Lights Journal

2020-02-14
2
653
Dalam artikel ini:

Untuk seorang penulis biografi-piktorial seperti Dwie Haryo (dari Lights Journal), fotografi pernikahan selalu merupakan pekerjaan yang memuaskan hasrat diri karena kecintaannya dalam bercerita. Dia percaya bahwa setiap individu memiliki sisi diri yang rentan tergores oleh perjuangan pribadi yang membentuk mereka menjadi seorang pribadi manusia seperti mereka saat ini – dan hal itu menjadi jalan pendekatan puitisnya terhadap fotografi pernikahan.

Hasil kerjanya sering dijaga dalam bentuk yang minimal: latar belakang yang bersih, hamparan pencahayaan yang terinspirasi dari film, penggunaan alam dan penggambaran kedekatan manusia yang lembut. Pada akhirnya, apa yang kita pilih untuk prioritaskan adalah untuk ‘menciptakan emosi yang tidak lekang waktu sampai rambutmu menjadi abu-abu’.

Father walking bride down the aisle

EOS 5D Mark IV, EF85mm f1.2L USM lens, f/1.8, 85mm, 1/2500 sec, ISO 200

Pada edisi ini, kami berbicara pada Dwie Haryo dari Lights Journal tentang menjadi seorang fotografer pernikahan dan tipsnya untuk fotografer pemula lain.

pre-wedding shoot couple on a hill against back light

EOS 5D Mark IV, EF50mm f1.2L USM lens, f/2.8, 50mm, 1/8000 sec, ISO 50

Bagaimana cara anda menjadi seorang fotografer pernikahan?

Dwie: Untuk saya, saya terinsipirasi dari ide berbagi cerita, dan lebih kepada pemikiran untuk menangkap momen sekali-dalam-seumur hidup bagi pasangan pengantin yang sedang jatuh cinta. Saya bertujuan untuk membingkai setiap tawa canggung dan senyum bodoh dalam foto-foto saya karena saya benar-benar percaya akan momen magis dan yang tidak bisa diprediksi tersebutlah yang memberi foto-foto ini tujuan untuk terwujud.Fotografi pernikahan lebih dari sekedar foto yang indah.

Bagaimana anda menemukan gaya anda sendiri?

Dwie: Saat saya memulai karir, saya dulu menggunakan berbagai referensi seperti majalah-majalah pernikahan dan fotografer lain untuk mengeluarkan ide, komposisi, dan gaya foto.Merupakan kesenangan tersendiri untuk bereksperimen dengan berbagai estetik yang berbeda sampai saya mulai menyadari bahwa saya kehilangan ‘keorisinalan’ gaya dan arahan artistik saya sendiri. Pada akhirnya, saya memutuskan untuk fokus pada gaya fotografi jalanan dan documenter yang lebih sedikit berkembang dalam pekerjaan saya.

pre-wedding shoot couple hugging

EOS 5D Mark IV, EF85mm f1.2L USM lens, f/1.2, 85mm, 1/640 sec, ISO 800

Bagaimana cara anda mencari lokasi pemotretan?

Dwie: Saya suka berjalan-jalan dan menjelajahi lingkungan sekitar. Jadi pada hari pernikahan, biasanya saya akan tiba lebih cepat untuk memeriksa lokasi dan daerah sekitarnya untuk mencari tempat/titik yang unik tetapi tidak mengganggu keberlangsungan acara/tempat.

Apa yang menjadi definisi fotografer pernikahan yang sukses bagi anda?

Dwie: Ya, bagi saya sulit untuk menentukan apakah seseorang sukses atau tidak. Saya tentu merasakan bahwa beberapa orang mendefinisikan ‘sukses’ sebagai daftar klien yang bertahan dan terus ada. Tetapi bagi saya, sukses bisa sekecil seperti berhasil mengambil foto yang sempurna di hari pernikahan – dan yang paling penting, memenuhi keinginan dan kebutuhan klien anda.

black and white photo of mother hugging daughter in wedding gown

EOS 5D Mark lll, EF50mm f1.2L USM lens, f/1.2, 50mm, 1/500 sec, ISO 800

Tip terbaik untuk fotografi pernikahan?

Dwie: Terlepas dari tips-tips teknis yang orang lain selalu berikan, saya piker berinvestasi dalam sepasang sepatu yang baik bisa mendirikan atau menghancurkan karirmu. Kenapa? Karena sebagai fotografer (percaya pada saya dalam hal ini!), kita selalu bergerak untuk mencari titik pemotretan yang sempurna dan terkadang, kita bisa berdiri di atas balkon atau mimbar yang tidak selalu kering atau datar.Oleh karena itu, merasa nyaman dengan sepatu berkualitas baik sangatlah penting!

Apa yang kamu harapkan untuk capai berikutnya?

Dwie: Videografi pernikahan!Saya ingin belajar lebih banyak mengenai videografi.Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari video pernikahan yang pada akhirnya bisa meningkatkan pandangan saya dalam fotografi.

Untuk inspirasi pernikahan yang lebih banyak, periksalah:

Fotografi Pernikahan Dimana Saya Memulai

Pengetahuan Dasar untuk Memulai Fotografi Pra-nikah


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi.

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

Mengenai Penulis

Dwie Haryo
Dwie Haryo is an Indonesian photographer whose works are often kept to the minimal: clean background, film-inspired lighting overlays, the usage of nature and a delicate portrayal of human intimacy. After all, what he chose to prioritise is simply to ‘create a timeless emotion till your hair turns grey.’
Berbagi foto Anda di My Canon Story & berpeluang ditampilkan pada platform media sosial kami