Inspirations >> Photos & People

Fotografi Kehidupan Pulau di Bali Bagian 2: Gunung Batur

Gunung Batur dikenal sebagai gunung suci dalam kepercayaan Hindu. Gunung ini merupakan gunung api yang paling aktif di Bali dan letusan terakhirnya tercatat di tahun 2000. Terletak di desa Batur, Kecamatan Kintamani, puncak gunung ini berada pada ketinggian 1717 meter (5.633 kaki) di atas permukaan laut dan menghadirkan pemandangan keindahan Danau Batur beserta pegunungan yang mengelilinginya berikut endapan lahar hitam dari letusan terakhirnya. Baik itu karena Anda menyukai fotografi atau sekadar ingin mendapatkan pengalaman teristimewa, cara terbaik untuk menikmati pendakian gunung ini adalah dengan bangun pagi. Puncak gunung ini dapat dicapai dalam waktu sekitar 2 jam oleh sebagian besar pendaki; saya dan teman-teman saya mencapai puncak dalam waktu 1 jam dan 24 menit.

mount batur bali - eos 5d mark iv

EOS 5D Mark IV; EF70-200mm f/4L IS USM; f/4; 1/160 sec.; 70mm; ISO-640

Berangkat sebelum fajar
Perjalanan pagi merupakan pendakian populer bagi para turis, dan begitu saya mendengarnya, saya tahu bahwa saya tidak boleh melewatkan kesempatan berdiri di puncak gunung tua ini dan menyaksikan matahari terbit dari laut. 

bali photography canon eos 5D mark IV

EOS 5D Mark IV; EF11-24mm f/4L USM; f/8; 1/800 sec.; 24mm; ISO-640

Saya meninggalkan Canggu dengan sepeda motor saya sekitar pukul 2 pagi untuk menemui teman-teman saya di Kintamani yang bermalam di kaki Gunung Batur. Perjalanan saya untuk menemui mereka memakan waktu hampir 2 jam. Jaraknya dari Canggu cukup jauh, dan bagi Anda yang tidak mengenal area tersebut dengan baik, saya sarankan Anda untuk mengambil paket tur yang lengkap dengan pemandu dan pengemudi. Saya sendiri memang suka melakukan segala sesuatunya sendiri dan belajar dari apa yang saya lihat dan dengar.

mount batur balieos 5d Mark IV

EOS 5D Mark IV; EF11-24mm f/4L USM; f/4; 1/800 sec.; 11mm; ISO-640

Anda bisa memperkirakan waktu matahari terbit antara pukul 6 dan 6.30 pagi, jadi kami mulai mendaki pada pukul 4 pagi. Jalur pendakian berjarak sekitar 5km pulang pergi. Anda akan melewati dedaunan, pasir lahar kering, dan bebatuan dalam pendakian. Kami mendaki dalam kegelapan total, sepanjang jalan hanya diterangi oleh lampu senter kami.

mount batur with eos 5d Mark IV

EOS 5D Mark IV; EF11-24mm f/4L USM; f/4; 1/4000 sec.; 11mm; ISO-640

Mencapai puncak untuk menikmati keindahan matahari terbit
Begitu kami tiba di puncak pada saat matahari terbit, langit pun berubah warna dari hitam menjadi biru, merah muda lalu menjadi jingga. Dengan munculnya cahaya, kita bisa melihat seberapa jauh kita telah mendaki. Saya duduk di tepi batu sambil melihat atap desa yang diselimuti kabut, sembari meminum teh panas dan menyiapkan kamera saya untuk mengambil foto-foto. Cuaca terasa berangin dan dingin.

mount baturs eos 5d Mark IV

EOS 5D Mark IV; EF70-200mm f/4L IS USM; f/4.5; 1/8 sec.; 70mm; ISO-160

Di seberang lembah tempat saya mengarahkan kamera saya terdapat gunung api yang lebih tinggi lagi: Gunung Agung, gunung yang paling suci dan tinggi di pulau ini. Matahari akan terbit tepat di sebelahnya dan itulah momen yang saya tunggu-tunggu.

mount batur eos 5D mark IV

EOS 5D Mark IV; EF70-200mm f/4L IS USM; f/5.6; 1/4 sec.; 150mm; ISO-160

Keindahan dengan perangkat yang tepat
Saya hampir selalu memotret dalam kondisi pencahayaan minim dengan EOS 5D Mark IV. EOS 5D Mark IV terasa sangat mirip dengan EOS 5D Mark III, namun sedikit lebih ringan dengan tombol-tombol dan susunan menu yang mirip. Saya sangat takjub dengan autofokusnya yang begitu responsif dan mudah didapatkan bahkan di dalam kegelapan. Sensitivitas ISO kamera ini juga semakin disempurnakan secara signifikan untuk menghasilkan foto-foto yang mengesankan.

eos 5d Mark IV

EOS 5D Mark IV; EF50mm f/1.4 USM; f/5.6; 1/100 sec.; 50mm; ISO-500

Sesampai di dasar, saya bersama teman-teman memutuskan untuk menjelajahi danau Batur beserta desa-desa di sekelilingnya. Kami menemukan area kuburan yang hanya dapat dijangkau dengan perahu dan dipenuhi jasad-jasad yang membusuk di sekitar tulang-tulang tengkorak yang berserakan di tanah. Terasa ada getaran aneh di sana dan kami tidak suka cara sejumlah penduduk setempat memanfaatkan orang mati untuk mencari uang.

trunyan village - eos 5D Mark IV

EOS 5D Mark IV; EF11-24mm f/4L USM; f/5; 1/160 sec.; 20mm; ISO-640 (Desa Trunyan)

Kecamatan Kintamani yang indah, tenang, dan mengagumkan merupakan lokasi yang tepat untuk menghindari area-area di Bali yang penuh polusi dan hingar bingar.

mount batur kintamani

EOS 5D Mark IV; EF70-200mm f/4L IS USM; f/4; 1/400 sec.; 70mm; ISO-640

Ingin tahu pengalaman lengkap saya di Bali? Tetaplah di sini, artikel berikutnya tentang petualangan saya di Ubud akan segera hadir!

Ikuti petualangan Rafael di Bukit Peninsula, Bali.

Klik artikel di bawah untuk menemukan kiat dan panduan dalam memotret matahari terbenam:

Menangkap Warna Cemerlang dan Benderang Matahari Terbit
Langkah demi langkah: Menangkap Bidikan Lanskap Awal Pagi Nan Sejuk
Membuat Keputusan dalam Fotografi Lanskap: Pagi atau Larut Senja?
Fotografi Lanskap Dini Hari: Memotret Sebelum atau Sesudah Matahari Terbit?


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

Rafael Moura

Rafael Moura

Fotografer dan peselancar dari Rio De Janeiro, Brazil. Motonya adalah: Saya menjalani hidup yang saya cintai. Ia kini tinggal di California, Amerika Serikat.

www.instagram.com/rmbagus