Temukan yang Anda cari

atau cari melalui

topik

Article
Article

Article

e-Book
e-Book

e-Book

Video
Video

Video

Campaigns
Campaigns

Campaigns

Architecture
Kamera Saku

Kamera Saku

Architecture
DSLRs

DSLRs

Architecture
Videografi

Videografi

Architecture
Astrofotografi

Astrofotografi

Architecture
Tanpa Cermin

Tanpa Cermin

Architecture
Fotografi arsitektur

Fotografi arsitektur

Architecture
Teknologi Canon

Teknologi Canon

Architecture
Fotografi cahaya minimal

Fotografi cahaya minimal

Architecture
Wawancara fotografer

Wawancara fotografer

Architecture
Fotografi lanskap

Fotografi lanskap

Architecture
Fotografi makro

Fotografi makro

Architecture
Fotografi olahraga

Fotografi olahraga

Architecture
Fotografi Wisata

Fotografi Wisata

Architecture
Fotografi bawah air

Fotografi bawah air

Architecture
Konsep & Aplikasi Fotografi

Konsep & Aplikasi Fotografi

Architecture
Fotografi Jalanan

Fotografi Jalanan

Architecture
Kamera Mirrorless Full-frame

Kamera Mirrorless Full-frame

Architecture
Lensa & Aksesori

Lensa & Aksesori

Architecture
Nature & Wildlife Photography

Nature & Wildlife Photography

Architecture
Fotografi Potret Wajah

Fotografi Potret Wajah

Architecture
Fotografi Malam

Fotografi Malam

Architecture
Fotografi Hewan Piaraan

Fotografi Hewan Piaraan

Architecture
Solusi Pencetakan

Solusi Pencetakan

Architecture
Ulasan produk

Ulasan produk

Architecture
Fotografi Pernikahan

Fotografi Pernikahan

Inspirations >> Photos & People

Menyelami Foto Jurnalistik: Wawancara bersama Mithila Jariwala

2016-09-14
1
2.35 k
Dalam artikel ini:

Jurnalis foto Mithila Jariwala tidak pernah menyangka bahwa ia akan mengambil jalan fotografi. Tetapi sebuah perjalanan mengelilingi Amerika Serikat sebagai siswa pertukaran dengan kamera digitalnya yang pertama tidak hanya mengubah hal itu, namun juga menjadi awal perjalanan lain, sebagai seorang jurnalis foto. Ia berbagi pengalamannya sejauh ini dan apa yang diperlukan untuk menjadi seorang jurnalis foto.

Anak-anak dari Dras, Kashmir

Mengapa foto jurnalistik?

Ketika saya mulai bekerja secara profesional pada tahun 2010, saya seorang fotografer perjalanan. Saat saya bepergian dan melakukan dokumentasi perjalanan saya, saya ingin tahu lebih banyak tentang orang-orang yang saya temui di sepanjang jalan. Aku tidak merasa puas dengan hanya mengetahui permukaannya; saya ingin menggali lebih dalam dan tahu lebih banyak tentang kisah setiap individu. Saya menyadari bahwa saya sedang berubah menjadi seorang fotografer dokumenter. Seiring dengan perjalanan waktu, saya menjadi percaya diri dan sangat nyaman dalam melakukan pemotretan orang-orang di mana saja, berbicara bahasa apa saja. Saya tidak perlu berbicara dalam bahasa tertentu untuk merekam suatu cerita - saya telah mempelajari seni tersebut melalui kamera saya.

Seorang pengungsi Bhutan di Nepal

What’s your favourite subject to cover and why?

Apa subjek favorit Anda untuk diliput dan mengapa? Saya bukan seorang feminis, tetapi saya telah melihat ketidaksetaraan gender yang ekstrim, terutama ketika saya bertemu dan mewawancarai wanita yang pernah mengalami Mutilasi Alat Kelamin Wanita (Female Genital Mutilation / FGM) yang parah di Sudan dan banyak negara lainnya. Sejak saat itu, setiap subjek yang berkaitan dengan kesetaraan gender menjadi yang paling penting. Tapi selain itu, setiap kisah yang saya temukan dan saya rasakan dengan kuat, saya mencoba untuk meliputnya. Sangat penting untuk memiliki perasaan yang kuat dan peduli tentang orang-orang/masalah, hanya dengan demikian, Anda dapat berlaku adil terhadap kisah tersebut.

Apa yang mendorong Anda untuk meliput masalah-masalah ini?

Saya telah diberitahu bahwa seseorang harus sangat lepas dari keterlibatan emosional untuk melakukan hal ini. Tetapi bagi saya, itulah sensitivitas dan emosi yang dibawakan oleh setiap kisah yang mendorong saya untuk meliput masalah ini.

Anak dan ibu di Kassala, Sudan

Apa kisah yang paling menantang bagi Anda?

Setiap kisah memiliki tantangan tersendiri; secara emosional, psikologis, keuangan atau publikasi. Sulit untuk memilih hanya satu, tapi bisa saya katakan bahwa setelah gempa Nepal pada tahun 2015, saya meliput beberapa kisah positif dari pusat gempa dan sangat menantang untuk menyampaikan kisah positif kepada media. Kemudian saya menyadari bahwa tidak ada yang tertarik untuk menerbitkan kisah positif. Semua orang menginginkan drama.

Kondisi pasca gempa di Nepal, 2015

Apa tips Anda dalam memotret foto yang merupakan inti dari cerita?

Pertama, penting untuk memiliki perasaan yang kuat tentang kisah yang Anda liput. Kemudian penting untuk bersikap empati dan memahami kisah tersebut dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, mencurahkan waktu Anda kepada mereka, memperlakukan mereka sebagai sesama manusia dan bukan sebagai subjek, hanya dengan demikian, Anda bisa menggambarkan kisah nyata mereka dan sampai ke intinya.

Apa kamera dan lensa yang Anda gunakan selama bertugas?

Canon EOS 5D Mark II, terutama dengan lensa utama EF50mm f/1.4 USM dan lensa EF24-70mm f/2.8 II USM. Ini selalu menjadi bagian dari perangkat saya, [tapi] saya akan menambahkan lensa lain tergantung tema pemotretan saya.

Seorang anak dari suku Bateq di Malaysia

Apa saran Anda kepada calon jurnalis foto?

Jika Anda bersemangat tentang foto jurnalistik , jika Anda seorang pencerita visual dan Anda tidak takut untuk menghadapi tantangan, maka jangan berpikir dua kali. Pergi dan kejarlah. Hal ini tidak akan mudah, terutama di dunia digital saat ini, tetapi akan sangat memuaskan.

Apa yang diperlukan seseorang untuk menjadi seorang jurnalis foto?

Semangat, kasih, kerja keras dan percaya diri.

Akhirnya, apa yang ingin Anda capai dengan foto-foto Anda?

Saya berharap saya bisa membawakan emosi dari gambar-gambar saya sehingga pemirsa bisa merasakan kedalaman kisah yang coba saya sampaikan.

Kondisi kehidupan pengungsi Bhutan di Nepal

 

 

Profil fotografer

Mithila Jariwala

Secara teknis, foto jurnalistik berarti fotografer yang melakukan pemotretan jurnalistik, yang pantas dijadikan berita, yang saya lakukan, tapi saya lebih suka menyebut diri saya sebagai seorang fotografer dokumenter sosial. Seperti kisah-kisah humanis yang saya potret, dengan fokus pada isu-isu sosial yang pantas dijadikan berita, namun kisah-kisah ini tidak pada saat yang tepat sehingga tidak menjadi berita utama. Saya telah bekerja pada proyek-proyek bersama organisasi seperti UNICEF, UNDP, USAID, Chemonics, Kidasha. Saat ini saya bekerja pada kisah-kisah yang berhubungan dengan tipus untuk Sabin Vaccine Institute, sebuah organisasi yang didanai oleh Bill dan Melinda Gates Foundation.

Berbagi foto Anda di My Canon Story & berpeluang ditampilkan pada platform media sosial kami