Temukan yang Anda cari

atau cari melalui

topik

Article
Article

Article

e-Book
e-Book

e-Book

Video
Video

Video

Campaigns
Campaigns

Campaigns

Architecture
Kamera Saku

Kamera Saku

Architecture
DSLRs

DSLRs

Architecture
Videografi

Videografi

Architecture
Astrofotografi

Astrofotografi

Architecture
Tanpa Cermin

Tanpa Cermin

Architecture
Fotografi arsitektur

Fotografi arsitektur

Architecture
Teknologi Canon

Teknologi Canon

Architecture
Fotografi cahaya minimal

Fotografi cahaya minimal

Architecture
Wawancara fotografer

Wawancara fotografer

Architecture
Fotografi lanskap

Fotografi lanskap

Architecture
Fotografi makro

Fotografi makro

Architecture
Fotografi olahraga

Fotografi olahraga

Architecture
Fotografi Wisata

Fotografi Wisata

Architecture
Fotografi bawah air

Fotografi bawah air

Architecture
Konsep & Aplikasi Fotografi

Konsep & Aplikasi Fotografi

Architecture
Fotografi Jalanan

Fotografi Jalanan

Architecture
Kamera Mirrorless Full-frame

Kamera Mirrorless Full-frame

Architecture
Lensa & Aksesori

Lensa & Aksesori

Architecture
Nature & Wildlife Photography

Nature & Wildlife Photography

Architecture
Fotografi Potret Wajah

Fotografi Potret Wajah

Architecture
Fotografi Malam

Fotografi Malam

Architecture
Fotografi Hewan Piaraan

Fotografi Hewan Piaraan

Architecture
Solusi Pencetakan

Solusi Pencetakan

Architecture
Ulasan produk

Ulasan produk

Architecture
Fotografi Pernikahan

Fotografi Pernikahan

Saran & Tutorial >> Semua Saran & Tutorial

Kamera FAQ #5: Akankah Foto RAW yang Diambil Mempertahankan Kualitas Gambar Apabila Di-Retouch?

2016-03-31
6
7.01 k
Dalam artikel ini:

Retouch merujuk ke penyesuaian yang dibuat pada foto setelah dibidik. Foto yang diambil dalam format JPEG, ini dapat menyebabkan kualitas gambar memburuk. Namun demikian, apakah gambar RAW akan mengalami hal yang sama? Cari tahu selengkapnya pada penjelasan saya dalam artikel ini. (Dilaporkan oleh: Ryosuke Takahashi)

Lakukan dengan berhati-hati saat menyesuaikan kecerahan

Sebelum pasca-pemrosesan RAW
 

Setelah pasca-pemrosesan RAW
 

Pasca-pemrosesan RAW dilaksanakan dengan menggunakan perangkat lunak Digital Photo Professional Canon. Kecerahan ditetapkan ke EV-0,17 dan Picture Style diubah dari Auto ke Landscape. Namun demikian, Anda harus sangat berhati-hati ketika menyesuaikan kecerahan agar tidak merusak gambar.

RAW adalah format yang nyaman untuk pasca-pemrosesan, karena berbagai pengaturan dapat diubah setelah pemotretan. Sebaliknya, terdapat batas pada sebagian pengaturan yang dapat disesuaikan untuk data JPEG. Jika Anda juga mempertimbangkan penurunan kualitas gambar yang terjadi, pasca-pemrosesan nyaris tidak mungkin dilakukan untuk gambar JPEG.

Namun demikian, pasca-pemrosesan RAW yang berlebihan dapat menyebabkan kualitas gambar memburuk. Khususnya, efek penyesuaian kecerahan foto dengan menggunakan exposure compensation (kompensasi pencahayaan) dan tone curve (kurva nada) tidak dapat diabaikan.

Pada prinsipnya, DSLR memungkinkan jumlah cahaya yang optimal mengenai sensor gambar agar mencapai tingkat kecerahan dan gradient dalam gambar. Oleh karenanya, jika gambar yang sangat kekurangan cahaya (underexposed) di-retourch seperti dijelaskan di atas, datanya akan rusak. Bahkan, jika kecerahannya tampak sudah terpulihkan, tapi tetap ada noise dalam gambar. Hal ini karena berbagai informasi gambar di bagian bidikan yang gelap tidak terekam dengan benar. Misalnya, mengambil perekaman suara, ini seolah-olah sumber suara direkam secara berbisik. Karenanya, meskipun Anda menambah volume ketika memutarnya kembali, kualitas suara yang dihasilkan akan jelek. Hal ini sama seperti fenomena suara yang sulit ditebak apabila tidak direkam pada tekanan suara yang sesuai, karena noise latar belakang ditangkap bersama dengan perekaman. Pada gambar digital pun, penting untuk mencocokkan pencahayaan dengan kisaran yang dapat direproduksi (kisaran dinamis).

Perbedaan antara RAW dan JPEG

Pemotretan dengan menggunakan RAW dan JPEG memiliki kelebihan dan kekurangan. RAW cocok untuk pemandangan yang ingin Anda tangkap secara santai dan membidiknya secara cermat, sedangkan JPEG sebaiknya digunakan apabila Anda perlu secara cepat mengambil bidikan beruntun. Alih-alih berpaku pada satu format, sebaiknya memilih kombinasi terbaik, tergantung pemandangan dan subjeknya.
Lebih jauh lagi, algoritme pemrosesan gambar berbeda di antara kedua format tersebut, jadi Anda harus mengetahui bahwa gambar JPEG yang dihasilkan dari RAW tidak akan sama persis seperti kalau gambar JPEG diambil dengan kamera.

Jenis data: RAW

Kelebihan
- Jumlah informasi yang besar, seperti warna dan gradient.
- Bahkan file lama dapat dipasca-proses dengan perangkat lunak termutakhir.
- Anda dapat mencapai hasil akhir foto yang khususnya diinginkan.

Kekurangan
- Memerlukan pasca-pemrosesan.
- Perlu perangkat lunak khusus untuk pasca-proses.
- Ukuran file besar apabila direkam.
- Jumlah maksimum bidikan berkurang.

Jenis data: JPEG

Kelebihan
- Kadar keseragaman yang tinggi, dan dapat dilihat di lingkungan browsing apa pun.
- Pasca-pemrosesan tidak diperlukan. 
- Ukuran file kecil apabila direkam.
- Memungkinkan jumlah bidikan yang banyak.

Kekurangan
- Kapasitas data kecil untuk warna dan gradient.
- Kualitas gambar memburuk dalam pasca-pemrosesan, misalnya ketika melakukan retouch.
- Sulit untuk menutupi kesalahan dalam bidikan.

 

 

Ryosuke Takahashi

Lahir di Aichi tahun 1960, Takahashi memulai karier freelance pada tahun 1987 setelah bekerja pada studio foto iklan dan penerbit. Melakukan pemotretan untuk majalah besar, ia telah bepergian ke banyak penjuru dunia dari tempat kedudukannya di Jepang dan Tiongkok.

 

Digital Camera Magazine

Majalah bulanan yang berpendapat bahwa kegembiraan fotografi akan meningkat semakin banyak seseorang belajar tentang berbagai fungsi kamera. Majalah ini menyampaikan berita mengenai kamera dan fitur terbaru serta secara teratur memperkenalkan berbagai teknik fotografi.

Diterbitkan oleh Impress Corporation

 

 

Berbagi foto Anda di My Canon Story & berpeluang ditampilkan pada platform media sosial kami