Yang Baru

Laporan Kejuaraan Canon PhotoMarathon Asia: Bertarung untuk merebut Tempat Terhormat dalam Babak Akhir di Jepang!

Seperti yang terjadi setiap tahun, para fotografer dari 12 wilayah berbeda di Asia yang telah memenangkan Canon PhotoMarathon di sejumlah wilayah mereka, akan berada di Jepang untuk babak final kontes. Selama 10 hari, para peserta akan melakukan tur di Jepang, menikmati berbagai pemandangan dan saling mengenal serta memahami budaya masing-masing, dan budaya Jepang, meskipun mereka bersaing untuk mengambil foto terbaik. Instruktur GOTO AKI secara langsung memberikan laporan pandangan mata mengenai perjalanan rombongan yang penuh kenangan. (Dilaporkan oleh: GOTO AKI)

 

Pemenang Canon PhotoMarathons setempat, mengagumi panorama dan pemandangan di Jepang

Pada pagi hari, tanggal 16 Mei 2017, serombongan fotografer yang telah memenangkan Canon PhotoMarathons yang diadakan di negara mereka masing-masing, dan kawasan di Asia, mendarat di Tokyo.

Wisata fotografi sebelumnya yang dikenal sebagai Canon Photo Clinic, pada tahun ini mendapatkan nama baru, Canon PhotoMarathon Asia Championship, yang menandakan awal baru sebagai wisata kejuaraan untuk Canon PhotoMarathon. Acara yang berlangsung selama 10 hari ini memberikan kesempatan kepada para peserta untuk wisata ke Ibaraki, Yokohama, Kawasaki dan Tokyo, dan selama itu, para peserta harus mengambil dua tantangan sebelum sang juara dipilih: Event Challenge, yang tidak ada batas waktu dan mewajibkan para peserta mengajukan karya bidikan mereka pada tiap lokasi acara fotografi dan Theme Challenge. Temanya baru diungkapkan secara langsung sebelum membidik.

Untuk laporan tahun lalu, bacalah:
Klinik Foto 2016: Para Fotografer Dari 12 Negara Dipersatukan oleh Fotografi

Selama paruh pertama PhotoMarathon, para peserta mengunjungi Ibaraki, dan di sana mereka menjelajahi dan melakukan pemotretan pada sejumlah lokasi yang mencerminkan kesan budaya tradisional Jepang, seperti kuil dan pura, kendo gymnasium dan kebun tradisional Jepang, serta berbagai subjek yang masuk dalam tema 'natural landscapes' (bentangan alam).

 

Dini hari dan cuaca dingin tepi laut—tidak menyurutkan hati para fotografer yang bersemangat!

Saya masih ingat, saat itu pk. 3 dini hari pada hari kedua setelah kedatangan mereka, saya tiba di lobi hotel dan disambut oleh wajah-wajah yang tampak lelah dan letih setelah menempuh perjalanan panjang dan kurang tidur. Dengan berkendaraan bus, kami menuju gerbang torii Oaraiisosaki Shrine dan saat itu langit tampak berawan diselingi tiupan angin. Para peserta pasti merasa kedinginan, karena semuanya berasal dari negara yang udaranya hangat.

Pada sesi ulasan foto di malam sebelumnya, saya sudah memberi tahu mereka untuk mencoba berbagai variasi pengambilan foto, menggunakan sudut yang berbeda-beda. Kegiatan photoshoot di pagi hari, di tepi laut yang dingin, dan saya mengira bahwa mereka akan menyerah setelah melakukan beberapa bidikan. Namun, ternyata semua peserta tampak sangat antusias, memanjat batu karang dan berbaring di pantai, meskipun mereka basah kuyup, semuanya dilakukan demi mendapatkan bidikan ideal mereka. Saya memberikan pengarahan kepada mereka untuk mencoba gaya pemotretan yang berlainan—pemotretan genggam, dengan tripod, dengan filter—dan ternyata, kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk pemotretan. Persis seperti yang akan Anda harapkan dari para pemenang kontes PhotoMarathons setempat yang sangat ketat, antusias mereka terhadap fotografi sungguh mengagumkan. Itulah saat pertama kali saya merasakan, betapa dalam penghayatan mereka.

Untuk mendorong semangat para peserta agar membidik secara bebas, saya menahan diri, agar tidak terlalu banyak membanjiri mereka dengan gagasan saya. Saya memberikan saran untuk menggunakan tripod atau pengaturan kamera, hanya jika saya perkirakan bahwa hal itu akan membantu peserta untuk mengambil gambar yang jauh lebih baik.

 

Pelajaran dalam hal pencahayaan, dengan bantuan model berbusana kimono

Setelah makan siang, kami menuju Mito Kairaku-en, kebun gaya Jepang, dan di sana kami disambut oleh tiga wanita berbusana kimono yang akan menjadi model kami. Pada peserta wisata tahun ini, terdapat banyak fotografer dari kalangan wanita, jadi saya perkirakan responsnya akan relatif lebih tenang dibandingkan rombongan tahun lalu, yang semuanya pria. Tapi, ternyata saya sangat keliru—seluruh grup peserta langsung heboh, khususnya Thi Tang dan Hong, keduanya fotografer wanita dari Vietnam, yang selalu melemparkan senyuman kepada ketiga wanita berkimono. Saya merasa agak iri, ternyata bukan hanya pria, tetapi wanita pun mengagumi pesona wanita Jepang. Saya kemudian memulai acara photoshoot.

Di lokasi inilah saya berbagi saran dengan para peserta mengenai cara mengubah cahaya matahari yang bersinar melalui celah di antara pepohonan, menjadi spotlight (cahaya sorot), tentang adanya bayangan 'terang' dan bayangan 'gelap', dan betapa penting untuk memeriksa arah cahaya ketika membidik, dan tidak hanya mencurahkan perhatian kepada subjeknya. Reaksi mereka, "Itu betul sekali! Pencahayaan di sini memang lebih baik", dan saya sungguh gembira, senang bahwa saran saya telah membantu mereka.

Karena ini merupakan wisata grup, salah satu aturan penting adalah mematuhi ketepatan waktu. Setiap malam, pimpinan grup, Evan, staf Canon Singapore, akan menyerukan kepada semuanya untuk "Tepat waktu". Tetapi, pada pagi hari ketiga wisata, segalanya berantakan. Saya, sebagai instruktur ketiduran (atau, kembali tertidur). Dengan panik, saya mengemas koper dan sebagian celana panjang saya menjulur keluar koper, saya bergegas naik bus, dan saya adalah orang terakhir yang masuk ke dalam bus.

Saya minta maaf dan berterus terang: "Saya ketiduran! Maaf". Saya lihat semua orang melihat kepada saya dengan wajah senang. Seorang fotografer Malaysia, Asmady, tertawa sambil bilang, "Kami maafkan, karena Anda sudah bilang sorry, dan tidak mencari-cari alasan!" Setelah itu, entah bagaimana, kami mulai saling terbuka. Rupanya, kegagalan saya untuk tepat waktu, tampaknya membuat hubungan kami lebih erat. Satu lagi momen yang melambungkan semangat saya.

 

Memotret tempat populer di, dan sekeliling Tokyo

Paruh kedua wisata adalah Tokyo, Kawasaki dan Yokohama. Di sana para peserta menerima tantangan menangkap subjek baru, seperti Sanja Festival Asakusa, kawasan pabrik di malam hari, antara lain, Yokohama Chinatown dan Tsukiji Market.

 

Hubungan kami bertambah erat, terjalin oleh bahasa yang sama, foto dan senyuman

Dalam setiap sesi ulasan foto, saya akan berbagi sebagian konsep teori fotografi dengan para peserta. Fotografi adalah suatu bentuk ekspresi, dan dunia tiga dimensi yang Anda lihat secara kasat mata dialihkan ke permukaan yang datar, yaitu selembar foto. Apabila Anda mengubah sesuatu menjadi selembar foto, yang penting adalah menggambarkannya sedemikian rupa sehingga terlihat jauh lebih memesona daripada yang Anda lihat secara kasat mata, dan itulah yang saya jelaskan kepada para peserta dalam kapasitas saya sebagai fotografer profesional.

Seusai setiap ulasan, banyak di antara mereka yang akan membanjiri saya dengan segudang pertanyaan, misalnya, "Apa pendapat Anda mengenai gambar ini?" "Dapatkah Anda mengajari kami tentang, ke mana menetapkan fokus untuk lanskap?" dan lain sebagainya. Terus terang, kami semua pasti lelah, setelah melakukan perjalanan tanpa henti, dan saya sungguh senang bahwa mereka menyimak saya. Ini sungguh merupakan pengalaman yang berharga, semua saling berbagi pertanyaan dan saling belajar.

Saya yakin bahwa sebagian dari Anda yang membaca artikel ini sambil berupaya keras untuk memahami bahasa Inggris, dan Anda tidak sendirian. Bagi saya, bahasa Inggris adalah bahasa asing, dan begitu pula yang dirasakan oleh banyak peserta wisata ini. Tetapi, perbedaan bahasa tidak menjadi rintangan dalam cara kami berkomunikasi. Saya masih ingat, fotografer Vietnam, Quang yang ikut serta dalam grup tahun ini. Bagi Quang, bahasa Inggris agak lebih sulit, tetapi dengan cara kami berbagi bahasa yang mencakup foto serta senyuman, dan bantuan hangat dari peserta lain, kami mampu berkomunikasi dengan sangat lancar. Bilamana sulit untuk berkomunikasi dengan kata-kata, kami akan melangsungkan percakapan melalui mata, dan Quang melakukannya sungguh kocak, dan itu meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya.

 

 

Waktu perpisahan

Pada malam terakhir di Tokyo, kami melakukan penilaian final untuk gambar yang dihasilkan. Shugo Takemi, fotografer olahraga bergabung dengan kami dalam panel juri. Para kontestan dinilai untuk kaitan dengan tema, keaslian, teknik serta dampak fotografi, dan kompetisi ini ditutup setelah kami menobatkan sang juara, fotografer asal Indonesia, Areza, yang secara konsisten meraih skor tinggi untuk setiap tantangan foto. Pada hari terakhir tur, kami semua melepaskan lelah dan bergembira-ria di Disneyland sebelum menuju bandara pada malam harinya.

Semua begitu cepat berlalu, kini saatnya untuk berpisah—waktu yang tidak terlalu menyenangkan dari seluruh tur kami. Semua orang tampak tersenyum, tetapi saya hampir menitikkan air mata. Saya memikirkan tentang bagaimana para peserta sekarang akan mempersepsikan panorama dan pemandangan di negaranya masing-masing. Pasti akan sedikit berbeda, karena mereka telah berkunjung ke negara asing, yaitu Jepang. Saya menantikan untuk melihat gambar baru yang mereka potret. Pada hari itu, kami mengucapkan kata perpisahan, tetapi saya berharap mereka akan kembali lagi kelak.

 

Hasil karya dari para peserta

EOS 6D/ EF70-200mm f/2.8L USM/ FL: 145mm/ Aperture-priority AE (f/18, 25 det., EV±0)/ ISO 100/ WB: Auto
Foto oleh Areza
Sambil mengamati "air terjun" mini yang tercipta bilamana ombak menyapu bebatuan dan surut kembali. Sang fotografer, Areza, menangkap pemandangan ini dengan menggunakan tripod dan kecepatan rana lambat. Bidikan ini memberi saya kesan kecermatan dan keterampilan teknik Areza—keterampilan yang wajib dimiliki dalam fotografi.

Anda mungkin tertarik untuk membaca: Memotret Air Terjun: Dibekukan atau Diburamkan?

 

EOS 7D Mark II/ EF50mm f/1.8 STM/ FL: 50mm/ f/4.5/ 1/1600 det./ ISO 100
Foto oleh Tan
Bidikan ini memang rumit yang mencakup keterampilan dalam memanfaatkan persepsi pemirsanya, bahwa ada langit di atas pepohonan, bersama dengan lingkaran bokeh cahaya di latar depan. Gambar ini menyiratkan pengamatan yang tenang serta kreativitas. Pohon dalam gambar sesungguhnya pantulan pada permukaan air. Lihat gambar secara terbalik—nah, bisakah Anda melihatnya sekarang?

 

EOS 5D Mark III/ EF16-35mm f/2.8L II USM/ FL: 35mm/ f/22/ 181 det./ ISO 100 
Foto oleh Stuti
Bidikan yang terlihat surealis ini menangkap cahaya dari bus yang sedang melaju melintasi kawasan pabrik mesin yang udaranya dingin. Seluruh gambar ini merupakan contoh foto yang indah mengenai komposisi garis dari kedua bangunan pabrik dan jejak cahaya, yang menangkap cahaya yang tidak tampak secara kasat mata, sekaligus membangkitkan rasa penasaran dari pemirsanya.

 

EOS 5D Mark III/ EF70-200mm f/4L IS USM/ FL: 89mm/ Aperture-priority AE (f/5.6, 1/100 det., EV±0)/ ISO 100/ WB: Auto
Foto oleh Thi Tang
Bidikan Chinatown di Yokohama, tempat populer yang dipenuhi wisatawan. Gambar ini menangkap keingintahuan gadis kecil serta tingkahnya yang menggemaskan. Semuanya terekam dalam satu bingkai. Ini adalah sebuah karya indah, produk yang dihasilkan melalui prakarsa, dan kejelian serta ketenangan seorang fotografer.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang karya para peserta, bacalah artikel berikut ini: 
Tantangan Fotografi: Kejuaraan Canon PhotoMarathon Asia 2017 (versi bahasa Inggris)

 

Kini giliran Anda untuk bergabung dalam Canon PhotoMarathon!

Jika Anda membaca artikel ini dan ingin bergabung, inilah kesempatan Anda. Canon PhotoMarathon! untuk 2017, tidak lama lagi akan diadakan di berbagai negara di Asia. Bergabunglah, dan Anda pun bisa berpartisipasi dalam tur Canon PhotoMarathon! 2018. Semoga berhasil!

Canon PhotoMarathon XV 2017
http://www.canon.com.sg/photomarathon/

 

Saksikan video berikut ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang apa yang terjadi selama berlangsungnya Canon PhotoMarathon Asia Championship 2017!

Intro

 

Tantangan 1

 

Tantangan 2

 

Tatangan 3

 

Tatangan 4

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

 

GOTO AKI

Lahir pada tahun 1972 di Prefektur Kanagawa dan lulus dari Sophia University serta Tokyo College of Photography. Goto menerbitkan koleksi karya foto yang berjudul "LAND ESCAPES" dan juga terlibat secara aktif dalam pembuatan karya seperti “water silence” suatu instalasi yang menggabungkan foto dengan video.

http://gotoaki.com/

Tanggapan

Tulis Komentar

 

Login untuk memberi tanggapan

ANDA TELAH LOG OFF DARI AKUN

Email dengan link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email SNAPSHOT anda yang terdaftar.

Setelah anda mengklik link, anda dapat login dengan detil login yang telah ada.

Terima kasih atas dukungan yang telah diberikan sebagai anggota Komunitas CANON and SNAPSHOT. Kami akan berusaha memberikan konten yang bermanfaat dan seru untuk membantu anda mengembangkan bakat menjadi seorang fotografer handal!

IZIN UNTUK LANGKAH SELANJUTNYA

ID CANON anda akan disatukan dengan ID SNAPSHOT.

Link untuk melakukan pengaktifan telah dikirim melalui email.

Silahkan mengetik kembali password anda agar kami dapat mengambil langkah selanjutnya.

Ketik password

Dengan mengklik disini, anda setuju untuk menyatukan CANON ID dan SNAPSHOT ID. Persetujuan tersebut tunduk pada SYARAT & KETENTUAN CANON AND SNAPSHOT. TERMS & CONDITIONS.