Scheduled Maintenance: Some services on SNAPSHOT may not be available on 28 July 2019 from 1am to 4am. We apologise for any inconvenience caused.
Close
Tips & Tutorials >> All Tips & Tutorials

Pendahuluan tentang Pencetakan Seni Lukis Murni – Bagian 7: Memilih Kertas untuk Cetakan Karya Seni Lukis Murni

2017-10-05

Di samping penorehan warna (bagian 3 dan 4) serta kalibrasi perlengkapan (bagian 5 dan 6), pilihan kertas dalam pencetakan karya seni lukis murni penting, baik pada tingkat artistik maupun teknis. Pilihan kertas yang bagus akan menyempurnakan gambar, membantu meningkatkan level ekspresi artistik dan nilai jualnya ke kolektor akan lebih baik. Secara teknis, kertas adalah komponen sangat menentukan dari proses pencetakan dan menentukan, apakah cetakannya cukup tahan lama sampai bertahun-tahun kemudian. Apa pun potretnya, entah itu potret pria lanjut usia, atau hamparan lanskap suatu pedesaan di Inggris, pilihan kertas Anda memiliki peran yang menentukan dalam pencetakan karya seni lukis murni.

Pendahuluan tentang Pencetakan Seni Lukis Murni

 

Apa yang membuat kertas seni lukis murni bagus? 

Banyak elemen yang menentukan, apakah kertasnya memang sesuai untuk cetakan yang tepat dan tahan lama. Hal-hal untuk dipertimbangkan, termasuk:

- Bahan kertas
- Teknologi pelapisan
- Warna kertas
- Berat kertas atau ‘gsm’ (grams per square meter)
- Tekstur permukaan atau polesan akhir

 

Bahan kertas
Kertas yang bagus untuk pencetakan inkjet, minimal harus terdiri atas 2 lapisan – alas kertas dan lapisan yang diterapkan pada alasnya. Alas kertas yang paling baik terbuat dari serat kapas (rag) dan selulosa kayu, atau kombinasi keduanya. Kertas rag mengandung hingga 100% serat kapas atau linen, dan juga paling mahal, karena kertas ini diketahui bisa bertahan hingga ratusan tahun tanpa memudar, berubah warna, atau seratnya menjadi rapuh.

Kertas kantor tanpa lapisan yang standar v.s. kertas berlapis untuk pencetakan inkjet

Pertimbangan lainnya yaitu, kertas harus bebas asam, dengan nilai pH 7,0 atau lebih tinggi. Kandungan asam dalam kertas akan dialihkan ke tinta pada cetakan, menyebabkannya memudar dan berubah warna. Produsen kertas biasanya menyatakan nilai pH kertas pada kemasannya.

 

Putih dan kecerahan
Sebagai aturan umum, semakin putih kertasnya, semakin tinggi kontras warna dalam hasil cetakan, dan menyebabkan manfaat cetakan dari gamut warna yang lebih kaya. Oleh karena itu, para fotografer yang ingin menciptakan gambar warna-warni yang hidup, kerap memilih kertas putih. Kecerahan sehelai kertas biasanya diukur pada skala 1 hingga 100. 100 adalah yang paling cerah. Contohnya, kertas bond multiguna yang digunakan pada mesin fotokopi dan printer kantor, memiliki pengukuran kecerahan kertas yang berkisar 80-an. Sebaliknya, kertas foto inkjet, terukur dalam kisaran menengah hingga setinggi 90, dan dapat merefleksikan lebih banyak cahaya, sehingga membuatnya tampak lebih cerah. 

Untuk menciptakan kecerahan, produsen kertas akan menggelantang kertas dengan klorin atau menggunakan Optical Brightening Agents (OBA). Kertas yang dihasilkan dengan cara ini, tidak dapat mempertahankan kecerahannya dan kelak, pergeseran warna akan terjadi. Jika kelanggengan cetakan penting bagi Anda, pilihlah kertas yang dihasilkan tanpa penggelantangan klorin atau OBA. Untuk menentukan apakah kertas memiliki pencerah optik, sinari kertas dengan sinar UV (Ultra Violet) di kamar gelap. Jika kertas menyala dengan terang, pencerah optik telah ditambahkan sewaktu produksi.

Mencari kertas yang bebas klorin memerlukan pemahaman dasar mengenai terminologi yang digunakan produsen kertas. Contohnya, ‘Chlorine-free’ (Bebas klorin), berarti tidak ada klorin yang digunakan, dan ini tidak sama dengan ‘Elemental Chlorine-Free’ (ECF). Kertas pengolahan ECF dihasilkan menggunakan produk turunan klorin. Carilah kertas yang menggunakan pulp (bubur kertas) yang mencantumkan deskripsi Totally Chlorine-Free (TCF).

 

Berat kertas
Berat kertas diukur dalam satuan gram per meter persegi (gsm atau g/m2). Untuk pencetakan karya lukis seni murni, kertas yang lebih berat biasanya lebih disukai, karena memberikan kekakuan pada cetakan, dan karenanya mencegah kertas menggulung dan melengkung. Karena itu, banyak fotografer yang lebih memilih kertas 230gsm atau yang lebih berat. Ini juga merupakan praktik yang bagus untuk menggunakan kertas yang lebih berat apabila membuat cetakan yang lebih besar untuk membuatnya lebih mudah ditangani sewaktu dipasang dan digantungkan. Namun demikian, harap diperhatikan bahwa tidak semua printer dapat menangani kertas yang tebal dan berat, karena kebanyakan printer tidak memiliki kemampuan pemuatan kertas dari belakang. Carilah printer yang mendukung pengumpanan jalur kertas lurus, misalnya, Canon imagePROGRAF PRO-500.

 

Teknologi pelapisan
Kertas untuk karya seni murni yang bagus harus dilapisi untuk mendapatkan hasil cetakan paling baik. Terdapat tiga jenis teknologi pelapisan yang tersedia.

Teknologi pelapisan - microporous coating

Microporous coating – Lapisan yang terdiri atas lapisan halus bahan keramik yang ditumbuk menjadi serbuk halus. Kertas dengan lapisan ini cepat kering. Namun demikian, karena sifat pori-porinya, kertas ini tidak direkomendasikan untuk digunakan dengan tinta berbasis pewarna, karena tinta ini akan terus-menerus terpaparkan ke udara dan dapat menyebabkan perubahan warna kelak. Yang paling cocok untuk kertas ini adalah tinta berbasis pigmen.

 

Teknologi pelapisan - kertas swellable

Kertas swellable – Lapisan terbuat dari bahan polimer yang membengkak jika terkena tetesan tinta dari printer inkjet. Lapisan menyerap tinta dan membiarkan pewarna menembus ke lapisan atas kertas. Kertas ini paling baik untuk tinta berbasis pewarna, dan Anda bisa mengharapkan cetakan yang sangat mulus dan jernih serta tahan pemudaran.

Kertas Resin-coated (RC) – Ini adalah kertas berbasis serat yang secara populer digunakan dalam cetakan foto basah konsumen dari kamar gelap, tetapi kini sudah secara luas digunakan dalam pencetakan inkjet digital. Kertas yang terdiri atas substrat basa yang terbuat dari plastik dan dienkapsulasi oleh dua lapisan polietilena tipis. Lapisan swellable atau microporous kemudian dioleskan pada bagian atas untuk membuatnya sesuai guna pencetakan. Tersedia kertas RC untuk tinta berbasis pigmen maupun berbasis pewarna. Walaupun kertas ini sangat awet, namun banyak fotografer yang berpendapat bahwa kertas ini terasa seperti plastik, dan tidak ada perabaan dan tekstur bahan kertas tradisional.

 

Permukaan kertas (Polesan akhir kertas)

Tersedia beragam luas polesan akhir kertas. Semuanya dikategorikan sebagai berikut:

- Glossy
- Semi-gloss, Luster, Satin
- Matte
Permukaan kertas atau Polesan akhir kertas

Biasanya, semakin mulus kertasnya, semakin tajam kemunculan fotonya. Untuk menghadirkan warna paling berseri dalam gambar Anda, kertas glossy dan semi-gloss adalah yang terbaik untuk pencetakan. Para fotografer yang ingin membuat cetakan karya seni lukis murni dalam hitam dan putih, dapat mempertimbangkan untuk menggunakan kertas matte (kadang dikenal juga sebagai velvet), karena kertas ini menciptakan penampilan lebih mulus yang memperindah nada kulit. Harap diingat, bahwa kertas glossy tidak optimal untuk tinta berpigmen, karena pigmen terutama menetap pada permukaan dan dapat mengganggu kilapan permukaan.

 

Sebagian saran tentang memilih kertas yang tepat untuk gambar Anda

- Kertas harus cocok dengan teknologi tinta yang digunakan, misalnya, pewarna atau pigmen.
- Kertas harus sesuai dengan subjek, misalnya memilih media canvas untuk gambar terkait fashion yang berwarna cerah, dianggap tidak cocok.
- Dan tentu saja, kertas harus sesuai dengan preferensi pribadi Anda.

Jenis kertas - glossy dan matte

Untuk membuat cetakan dengan banyak detail halus, misalnya fashion, kertas glossy, putih cerah dapat memberikan hasil terbaik. Cetakan lanskap dengan pemandangan berpanorama, dapat terlihat lebih baik pada kertas cat air. Demikian pula halnya, cetakan potret wajah hitam-putih secara visual lebih menyenangkan apabila dicetak pada kertas yang tidak terlalu putih.

 

Mencetak pada media yang tidak lazim
Demi mengejar ekspresi artistik, sebagian fotografer mencari di luar sumber bahan biasa untuk mencapai penampilan unik untuk foto mereka. Para fotografer diketahui menggunakan media kertas yang terbuat dari kain lenan atau katun yang biasanya digunakan untuk lukisan cat minyak atau lukisan akrilik. Atau, kertas yang terbuat dari bambu yang ramah lingkungan dan bahan non-kayu, seperti bagasse (limbah serat tebu) yang menarik perhatian karena berbagai kemungkinan untuk penampilan artistiknya. Semakin banyak yang juga menggunakan Washi atau kertas tradisional Jepang yang terbuat dari kulit pepohonan di Jepang. Kertas ini mengandung serat yang lebih panjang daripada kertas yang berasal dari barat, sehingga memberikan tekstur dan rabaan yang khas pada cetakan.

Berbekal pengetahuan mengenai karakteristik kertas, Anda akan dapat memilih kertas yang cocok untuk proyek pencetakan karya seni lukis murni Anda yang berikutnya.

Dalam artikel berikutnya, kita akan mempelajari cara menciptakan bagan warna untuk menguji kesesuaian media kertas tradisional dan non-tradisional.

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!