Temukan yang Anda cari

atau cari melalui

topik

Article
Article

Article

e-Book
e-Book

e-Book

Video
Video

Video

Campaigns
Campaigns

Campaigns

Architecture
Kamera Saku

Kamera Saku

Architecture
DSLRs

DSLRs

Architecture
Videografi

Videografi

Architecture
Astrofotografi

Astrofotografi

Architecture
Tanpa Cermin

Tanpa Cermin

Architecture
Fotografi arsitektur

Fotografi arsitektur

Architecture
Teknologi Canon

Teknologi Canon

Architecture
Fotografi cahaya minimal

Fotografi cahaya minimal

Architecture
Wawancara fotografer

Wawancara fotografer

Architecture
Fotografi lanskap

Fotografi lanskap

Architecture
Fotografi makro

Fotografi makro

Architecture
Fotografi olahraga

Fotografi olahraga

Architecture
Fotografi Wisata

Fotografi Wisata

Architecture
Fotografi bawah air

Fotografi bawah air

Architecture
Konsep & Aplikasi Fotografi

Konsep & Aplikasi Fotografi

Architecture
Fotografi Jalanan

Fotografi Jalanan

Architecture
Kamera Mirrorless Full-frame

Kamera Mirrorless Full-frame

Architecture
Lensa & Aksesori

Lensa & Aksesori

Architecture
Nature & Wildlife Photography

Nature & Wildlife Photography

Architecture
Fotografi Potret Wajah

Fotografi Potret Wajah

Architecture
Fotografi Malam

Fotografi Malam

Architecture
Fotografi Hewan Piaraan

Fotografi Hewan Piaraan

Architecture
Solusi Pencetakan

Solusi Pencetakan

Architecture
Ulasan produk

Ulasan produk

Architecture
Fotografi Pernikahan

Fotografi Pernikahan

Saran & Tutorial >> Semua Saran & Tutorial

Pantulan: Lanskap “Mirip” Hamparan Sawah

2020-03-27
1
345
Dalam artikel ini:

Suatu komposisi simetris bukan satu-satunya cara untuk menggunakan pantulan, dan gambar Anda tidak selalu harus menyertakan subjek aktual yang dipantulkan. Beginilah cara pantulan langit digunakan untuk menghidupkan lanskap hamparan sawah. (Dilaporkan oleh: Hirokazu Nagane, Digital Camera Magazine)

Hamparan sawah dengan pantulan langit di air

EOS 5D Mark III/ EF100-400mm f/4.5-5.6L IS USM/ FL: 350mm/ Manual Exposure (f/10, 1/320 det.)/ ISO 400/ WB: Daylight
Musim/Waktu: Musim Semi/Larut Senja
Lokasi: JR Tadami Line, antara Stasiun Aizu Takada dan Negishi, Prefektur Fukushima

 

Penerangan dan cuaca: Jika membidik pada cahaya depan, pastikan terdapat gumpalan awan

Meskipun efeknya bergantung pada kondisi pemotretan Anda yang sesungguhnya, namun secara umum, membidik pada cahaya depan bisa membuat badan air terlihat lebih memantul, bentuknya lebih bagus dan karenanya, lebih menonjol pada lanskap.

Gambar utama di atas dibidik pada larut senja. Terdapat gumpalan awan di langit, yang sungguh membantu bidikan saya: Matahari larut senja yang bersinar menembus awan, dipantulkan oleh air yang menggenangi hamparan sawah, menciptakan ketegasan sinar kilauan di tengah pantulan langit biru.

Sebagai perbandingan, ketika saya membidik pemandangan yang sama di pagi hari, terdapat cahaya latar yang mengubah kereta api menjadi siluet dan hamparan sawah berkilauan. Suatu bidikan yang bagus, tetapi saya ingin menunjukkan hamparan sawah yang lebih baik.


Apa yang terjadi apabila tidak terdapat gumpalan awan?

Air yang menggenangi sawah pada hari yang cerah

Bidikan di atas, diambil pada hari yang cerah. Terlihat agak biasa, bukan? Efek mirip cermin dari bidikan utama bukan karena arah cahaya, tetapi juga karena kehadiran awan.

Baca juga: Membuat Keputusan dalam Fotografi Lanskap: Cahaya Depan atau Cahaya Latar?

 

Komposisi: Manfaatkan pola dan garis geometris

Satu hal lagi yang membuat pemandangan ini unik yaitu pola geometris yang terbentuk oleh hamparan sawah dan area yang membaginya. Pastikan bahwa Anda membingkai gambarnya untuk menunjukkan hal ini!


Saran pakar: Dengan sengaja membuat detail yang sehalus-halusnya

Saya menyertakan kereta api untuk menambahkan daya tarik pada bidikan, tetapi jika Anda mencermatinya lebih dekat, Anda akan melihat bahwa bagian kereta api yang menghubungkan gerbongnya, tampak sejajar dengan garis yang diciptakan oleh salah satu area di antara petak sawah. Inilah bagian gambar dengan kereta api secara close-up:

Close-up kereta api yang sejajar dengan garis pada petak sawah

Ini bukan suatu kebetulan: Ini memang disengaja, karena saya ingin menyejajarkan garis-garis itu. Menurut saya, sangatlah penting untuk memerhatikan detail sekecil apa pun.

 

Lokasi: Terlihat berbeda pada sebagian siklus penanaman padi di sawah yang berbeda-beda

Saya membidik gambar di sini dari Futanuma Forest Park, di mana Anda bisa melihat Aizu Basin. Meskipun gambar di atas diambil pada musim semi, namun tempat ini juga sangat populer di antara para fotografer pada musim penanaman padi (sekitar Mei), dan awal musim gugur, saat bulir padi berwarna kuning keemasan.

Saran: Jika di-zoom out, Anda akan dapat menangkap Pegunungan Bandai di sekitarnya dalam bingkai!

Hamparan sawah kuning

Dibidik dari tempat yang sama pada awal musim gugur. Pantulan atau tanpa pantulan, semuanya bisa memukau, kalau melihat betapa berbedanya pemandangan di tempat yang sama, jika diambil pada waktu yang berbeda sepanjang tahun. Mungkin inilah waktunya untuk mengunjungi desa terdekat yang sedang melakukan penanaman padi di sawah.


Untuk saran lainnya mengenai memotret pantulan, bacalah:
Pantulan: Bentangan Laut yang Tak Bertepi di Senja Hari
Pantulan: Kereta Api Uap Melaju Dalam Suasana Senja nan Dramatis
Saran untuk Fotografi Pantulan Air: Asyiknya Bermain di Genangan Air!

Untuk saran lainnya mengenai komposisi guna menambahkan sentuhan unik pada lanskap megah Anda, bacalah:
Bidikan Jitu: Kereta Api Melaju di Antara Lanskap Musim Gugur nan Megah
Cara Melakukan Bidikan yang Jitu: Menambahkan Dampak ke Lanskap Hutan
Lanskap Musim Panas yang Memukau: Tempat Berpanorama di Jepang & Saran Fotografi Pro (3)

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi.

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

Mengenai Penulis

Digital Camera Magazine

Majalah bulanan yang berpendapat bahwa kegembiraan fotografi akan meningkat dengan semakin banyaknya seseorang belajar tentang berbagai fungsi kamera. Majalah ini menyampaikan berita mengenai kamera dan fitur terbaru serta secara teratur memperkenalkan berbagai teknik fotografi.
Diterbitkan oleh Impress Corporation

Hirokazu Nagane

Lahir di Yokohama pada tahun 1974. Setelah lulus dari Musashi Institute of Technology (Sekarang dirujuk sebagai ‘Tokyo City University’), ia belajar di bawah asuhan Mitsuhide Mashima, fotografer rel kereta api, yang juga adalah CEO Mashima Railway Pictures. Beberapa tahun belakangan ini, ia terlibat dalam menjelaskan berbagai teknik fotografi rel kereta api di majalah fotografi, dan menulis panduan fotografi rel kereta api. Ia berkeliling Jepang, mengambil foto kereta api sambil menjunjung tinggi motto, yaitu "mengambil foto yang begitu hidup sampai-sampai Anda bisa mendengar bunyi kereta, hanya dengan melihat fotonya".

Berbagi foto Anda di My Canon Story & berpeluang ditampilkan pada platform media sosial kami