Scheduled Maintenance: Some services on SNAPSHOT may not be available on 28 July 2019 from 1am to 4am. We apologise for any inconvenience caused.
Close
Tips & Tutorials >> All Tips & Tutorials

Pantulan: Kereta Api Uap Melaju Dalam Suasana Senja nan Dramatis

Percaya atau tidak, pantulan air dalam gambar utama bukanlah sebuah danau atau sungai, tetapi hamparan sawah yang digenangi air! Fotografer lanskap kereta api, Hirokazu Nagane berbagi cara dia menghasilkan bidikan tersebut, dan pelajaran yang bisa kita ambil, juga dapat diterapkan pada lanskap pantulan cahaya latar apa pun. (Dilaporkan oleh: Hirokazu Nagane, Digital Camera Magazine)

Kereta api uap dengan pantulan air pada matahari larut senja

EOS 5D Mark IV/ EF16-35mm f/2.8L III USM/ FL: 24mm/ Manual Exposure (f/8, 1/800 det.)/ ISO 800/ WB: Auto
Musim: Semi/ Waktu: Larut Senja
Lokasi: JR Ban'etsu West Line, antara stasiun Maoroshi dan Saruwada, Prefektur Niigata

 

Keputusan penting pemotretan

- Waktu: Larut senja, karena embusan angin berkurang, dan juga dapat menangkap uap kereta api
- Cahaya latar: Untuk menunjukkan gumpalan awan nan indah
- Komposisi simetris: Untuk lebih menarik perhatian ke pantulan
- Posisi kamera rendah: Untuk mendapatkan lebih banyak pantulan dalam bingkai

(Detail lebih lanjut untuk setiap keputusan di bawah. Gulir sampai ujung untuk mendapatkan saran bonus!)

 

Waktu: Larut Senja

Jika ingin mendapatkan permukaan seperti cermin pada pantulan air, musuh Anda adalah embusan angin. Waktu terbaik untuk memotret pantulan air adalah di pagi hari dan larut senja, karena embusan angin berkurang dibandingkan pada siang hari saat cuaca lebih hangat. Tentu saja, akan sangat membantu kalau tidak hujan.

Saya merencanakan bidikan ini untuk larut senja agar dapat memotret kereta api uap, SL “Banetsu Monogatari (Versi Inggris)”.

 

Sudut pencahayaan: Cahaya latar

Pada kondisi pemotretan tertentu, bisa sulit untuk memutuskan, apakah membidik pada cahaya latar atau cahaya depan, karena keduanya akan menghasilkan bidikan yang memukau. Pada sebagian pemandangan, Anda dapat membidik cahaya latar dan cahaya depan pada waktu yang sama. Sebagian lainnya, tidak memungkinkannya. Untuk lanskap kereta api seperti ini, hal ini menentukan (atau bergantung pada) sisi jalur mana yang Anda inginkan.

Untuk bidikan paling unggul, saya memutuskan untuk membidik pada cahaya latar yang menyertakan gumpalan awan yang mengesankan, mengubah kereta api menjadi siluet.

Apa yang terjadi kalau Anda membidik pada cahaya depan?

Kereta api dengan pantulan air, dibidik pada cahaya depan

Memotret pada cahaya depan akan membuat kereta api tampak berkilauan. Biasanya, saya akan memilih untuk memotret pada pencahayaan ini jika gumpalan awan tidak mengesankan.

Saran: Untuk detail selengkapnya mengenai gumpalan awan dalam bidikan cahaya latar, kurangi sedikit pencahayaannya ketika Anda membidik, kemudian pulihkan kembali detailnya sewaktu pasca-pemrosesan.

 

Komposisi: Simetris

Saya membingkai gambar utama untuk menarik perhatian ke garis simetris antara langit dan pantulannya dalam air yang menyerupai cermin. Bagi saya, untuk hanya menangkap kereta api dan hamparan sawah yang tergenang air akan menghasilkan bidikan yang sangat biasa. Oleh karenanya, saya biasanya mencoba menyatukan matahari larut senja dengan cara apa pun.

Siluet kereta api dalam suasana matahari larut senja

Bidikan ini menggunakan komposisi aturan segitiga yang diambil pada hari yang berbeda. Perhatian kita tidak ditarik sebanyak mungkin ke pantulan, tetapi ke siluet kereta api dan langit larut senja.

Saran: Gunakan graduated ND filter untuk meratakan perbedaan apa pun yang tampak menyolok antara separuh atas bidikan dan pantulan.

 

Posisi kamera: Rendah

Untuk mengisi bingkai dengan pantulan yang lebih banyak, letakkan kamera Anda serendah mungkin. Saya ingin agar pantulan kereta api terlihat lebih besar daripada ini, tetapi hal ini akan mengharuskan saya menuruni pematang sawah di sekitar—dan hal ini tidak disukai para petani. Karenanya, saya membidiknya dari tepi jalan, memegang kamera sedekat mungkin ke tanah.

Saran: Coba membidik dalam Live View dengan layar LCD Vari-angle kalau Anda bisa. Dengan cara itu, Anda tidak perlu menelungkup di tanah seperti yang saya lakukan untuk mendapatkan bidikan tersebut.


Ingat: Bersikap sebagai fotografer yang penuh kepedulian!

Sangatlah mudah terlena demi mendapatkan bidikan yang sempurna. Selalu menyadari keadaan di sekeliling Anda, dan pastikan Anda tidak melanggar atau merusak properti orang lain.

 

Saran bonus: Ketahui, kapan mengubah taktik

Close-up kereta api uap saat melaju ke arah matahari

Angin merupakan satu faktor yang bisa mencegah pantulan air terlihat mulus seperti cermin. Misalnya, kalau saya membidik beberapa minggu kemudian, tanaman padi di sawah akan tumbuh lebih tinggi dan merusak efeknya.

Daripada memaksanya dan akhirnya mendapatkan bidikan pantulan yang tidak bagus, sebaiknya mengubah strategi dan mencoba melakukan jenis bidikan yang berbeda. Untuk bidikan di atas, saya memutuskan untuk mengambil foto close-up pada lokomotif uap, dan memfokuskan perhatian saya untuk membuatnya berkilauan di bawah sinar matahari larut senja.


Untuk saran lainnya mengenai memotret pantulan, bacalah:
Saran untuk Fotografi Pantulan Air: Asyiknya Bermain di Genangan Air!

Pelajari lebih lanjut tentang memotret kereta api dan lanskap kereta api dalam artikel:
Bidikan Jitu: Kereta Api Melaju di Antara Lanskap Musim Gugur nan Megah
Cara Menangkap Bidikan Mengesankan pada Kereta Api yang Melaju dengan Pemotretan Beruntun


 

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi.

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

Digital Camera Magazine

Digital Camera Magazine

Majalah bulanan yang berpendapat bahwa kegembiraan fotografi akan meningkat dengan semakin banyaknya seseorang belajar tentang berbagai fungsi kamera. Majalah ini menyampaikan berita mengenai kamera dan fitur terbaru serta secara teratur memperkenalkan berbagai teknik fotografi.
Diterbitkan oleh Impress Corporation

Hirokazu Nagane

Hirokazu Nagane

Lahir di Yokohama pada tahun 1974. Setelah lulus dari Musashi Institute of Technology (Sekarang dirujuk sebagai ‘Tokyo City University’), ia belajar di bawah asuhan Mitsuhide Mashima, fotografer rel kereta api, yang juga adalah CEO Mashima Railway Pictures. Beberapa tahun belakangan ini, ia terlibat dalam menjelaskan berbagai teknik fotografi rel kereta api di majalah fotografi, dan menulis panduan fotografi rel kereta api. Ia berkeliling Jepang, mengambil foto kereta api sambil menjunjung tinggi motto, yaitu "mengambil foto yang begitu hidup sampai-sampai Anda bisa mendengar bunyi kereta, hanya dengan melihat fotonya".