Scheduled Maintenance: Some services on SNAPSHOT may not be available on 28 July 2019 from 1am to 4am. We apologise for any inconvenience caused.
Close
Tips & Tutorials >> All Tips & Tutorials Dalam Fokus: Dasar-Dasar Lensa- Part 5

Dasar-Dasar Lensa #4: Deep Focus

Deep focus, di mana semua elemen dalam gambar berada dalam fokus, adalah suatu teknik yang kerap digunakan dalam fotografi lanskap dan fotografi jalanan. Di sini, kita akan mempelajari mengenai 4 faktor yang memengaruhi deep focus (fokus dalam). Bagaimana kalau mencobanya dalam bidikan foto Anda yang berikutnya? (Dilaporkan oleh Tomoko Suzuki)

Gambar atas Dasar-Dasar Lensa

 

4 faktor untuk melakukan deep focus yang mudah

 

4 faktor dalam deep focus

4 faktor untuk melakukan deep focus yang mudah
1. Pilih lensa dengan panjang fokus yang pendek
2. Gunakan aperture kecil (f-number besar)
3. Gerakkan kamera lebih jauh lagi dari subjek
4. Pilih sudut/subjek yang kurang dalam

 

“Deep focus” mengacu ke status di mana semua elemen dalam gambar berada dalam fokus. Anda bisa menyebutnya teknik yang berlawanan untuk menciptakan bokeh. Ada 4 faktor dalam mencapai deep focus: Panjang fokus, aperture, kedalaman dan jarak pemotretan. Apabila Anda memotret, yang penting bukan hanya memiliki pemahaman konsep “depth-of-field” (area pada gambar yang tampak dalam fokus) yang baik, tetapi juga memiliki kontrol yang baik dari 4 faktor ini.

4 faktor itu adalah:
Panjang fokus: Depth-of-field lebih besar pada panjang fokus yang pendek, dan lebih dangkal pada panjang fokus yang lebih panjang.
Aperture: Depth-of-field lebih besar pada aperture yang lebih kecil, dan lebih dangkal pada aperture yang lebih besar.
Kedalaman: Hal ini mengacu ke jarak antara elemen latar depan, latar tengah dan latar belakang. Semakin datar gambarnya (jarak yang kurang di antara elemen), semakin mudah untuk mencapai deep focus. Semakin dalam gambar, semakin sulit mencapai deep focus. 
Jarak pemotretan: Semakin jauh kamera dari subjek, semakin besar depth-of-field-nya. Semakin dekat kamera ke subjek, semakin dangkal depth-of-field-nya.

Dengan kata lain, cara termudah untuk memastikan Anda mencapai deep focus adalah dengan menggunakan lensa sudut lebar, menetapkannya pada aperture terkecil, memosisikan kamera Anda sejauh mungkin dari subjek, dan memastikan bahwa kedalaman dalam gambar Anda sangat kecil.

Saran deep focus: Menggunakan aperture sempit akan memperlambat kecepatan rana, dan membuat gambar yang diambil di tempat yang redup atau gelap akan lebih rentan terhadap goyangan kamera. Untuk mengimbangi hal itu, manfaatkan mode ISO Auto.

Mari kita cermati lebih dekat masing-masing faktor yang memengaruhi deep focus.

 

Panjang fokus

Contoh di bawah dibidik pada panjang fokus yang berbeda, tetapi dengan f-number (f/11) yang sama, dan jarak pemotretan disesuaikan sehingga ukuran pilar tampak sama. Pada panjang fokus yang lebih pendek (24mm), depth-of-field lebih besar, dengan elemen di latar belakang berada dalam fokus. Sementara itu, pada panjang fokus yang lebih panjang (70mm), depth-of-field lebih sempit—perhatikan, bahkan pada f/11, bangunan sekolah di latar belakang tampak di luar fokus. Hal ini menunjukkan, bagaimana menggunakan lensa sudut lebar, yang memberi Anda panjang fokus yang sangat pendek, dapat membantu mencapai deep focus dengan lebih mudah.

Panjang fokus lebih pendek (24mm)

Dibidik dengan EF24-70mm f/2.8L II USM pada 24mm, f/11

EOS 5D Mark III/ EF24-70mm f/2.8L II USM/ FL: 24mm/ Aperture-priority AE (f/11, 1/160 det., EV-0,3)/ ISO 100/ WB: Manual

Panjang fokus lebih panjang (70mm)

Dibidik dengan EF24-70mm f/2.8L II USM pada 70mm, f/11

EOS 5D Mark III/ EF24-70mm f/2.8L II USM/ FL: 70mm/ Aperture-priority AE (f/11, 1/100 det., EV-0,3)/ ISO 100/ WB: Manual

 

Aperture

Gambar di bawah, di bidik dari posisi yang sama, tetapi dengan aperture yang berbeda. Gambar yang dibidik dengan aperture lebih kecil (f/16) mencapai deep focus—gambar tampak tajam seluruhnya hingga ke latar belakang. Namun demikian, satu bidikan dengan aperture lebih besar (f/1.4) memiliki latar belakang yang sangat terdefokus. Untuk gambar seperti yang di bawah, di mana jarak antara kamera dan subjeknya pendek, tetapi gambar memiliki banyak kedalaman, maka, dengan menyempitkan aperture seluruhnya ke f/16 memungkinkan Anda menaruh seluruh gambar secara tajam dalam fokus.

Aperture sempit (f/16)

Dibidik dengan EF50mm f/1.4 USM pada 50mm, f/16

EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.4 USM/ FL: 50mm/ Aperture-priority AE (f/16, 1/80 det., EV+0,3)/ ISO 100/ WB: Manual

Aperture besar (f/1.4)

Dibidik dengan EF50mm f/1.4 USM pada 50mm, f/1.4

EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.4 USM/ FL: 50mm/ Aperture-priority AE (f/1.4, 1/8000 det., EV+0,3)/ ISO 100/ WB: Manual

 

Kedalaman

Kedalaman pada gambar tidak mutlak. Anda bisa meningkatkan kedalaman pada gambar dengan menyesuaikan komposisinya. Saya menggunakan aperture lebar (f/1.4) yang sama untuk kedua gambar di bawah, tetapi membidik gambar di kiri secara frontal untuk menciptakan gambar yang secara relatif datar (tanpa kedalaman). Gambar sepenuhnya dalam fokus yang menunjukkan, bahwa Anda juga bisa mencapai deep focus dengan aperture besar, selama gambarnya relatif datar dan Anda memotretnya langsung dari depan. Pada gambar di kanan, saya menggunakan komposisi diagonal untuk menciptakan kedalaman. Perhatikan, bagaimana bagian gambar yang terdekat dan terjauh dari kamera, berada di luar fokus.

Untuk contoh deep focus dan penggunaan sudut dalam fotografi perjalanan, bacalah:
Saran Menarik dari Para Profesional Fotografi Perjalanan

Tanpa kedalaman (frontal)

Dibidik dengan EF50mm f/1.4 USM pada 50mm, f/1.4, dari depan

EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.4 USM/ FL: 50mm/ Aperture-priority AE (f/1.4, 1/40 det.)/ ISO 125/ WB: Manual

Dengan kedalaman (komposisi diagonal)

Dibidik dengan EF50mm f/1.4 USM pada 50mm, f/1.4, sudut diagonal

EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.4 USM/ FL: 50mm/ Aperture-priority AE (f/1.4, 1/40 det.)/ ISO 125/ WB: Manual

 

Jarak pemotretan

Gambar berikut dibidik dengan aperture yang sama (f/5.6), tetapi dari jarak pemotretan yang berbeda. Apabila kamera berada jauh dari subjek (contoh 100cm, kiri), depth-of-field lebih besar. Apabila kamera lebih dekat ke subjek (contoh 70cm, kanan), depth-of-field lebih dangkal. Dari ini, kita bisa menyimpulkan bahwa, apabila kita memotret pemandangan yang jauh, kita tidak perlu menggunakan aperture yang amat sempit untuk mencapai deep focus. Antara f/5.6 hingga f/8 seyogianya mencukupi untuk menaruh seluruh gambar dalam fokus.

Lebih jauh (100cm)

Dibidik dengan EF24-70mm f/2.8L II USM pada 27mm, f/5.6, jarak pemotretan: 100cm

EOS 5D Mark III/ EF24-70mm f/2.8L II USM/ FL: 27mm/ Aperture-priority AE (f/5.6, 1/200 det., EV+0,3)/ ISO 100/ WB: Manual

Lebih dekat (70cm)

Dibidik dengan EF24-70mm f/2.8L II USM pada 27mm, f/5.6, jarak pemotretan: 70cm

EOS 5D Mark III/ EF24-70mm f/2.8L II USM/ FL: 27mm/ Aperture-priority AE (f/5.6, 1/250 det., EV+0,3)/ ISO 100/ WB: Manual

 

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan apabila menggunakan teknik deep focus

1. Memahami, bahwa depth-of-field adalah tentang bidang gambar, bukan titik dalam fokus

Dibidik dengan EF50mm f/1.4 USM pada 50mm, f/2

EOS 5D Mark III/ EF50mm f/1.4 USM/ FL: 50mm/ Aperture-priority AE (f/2, 1/250 det., EV+0,3)/ ISO 100/ WB: Manual

Diagram menunjukkan bidang fokus
 

Pada contoh di atas, perhatikan bagaimana semua bidak catur yang disusun secara horizontal di dalam bidang fokus, tampak memiliki fokus tajam, tetapi bidak catur yang disusun secara vertikal, semuanya di luar fokus. Mengapa bisa begitu? Sederhananya, kamera menganggap semua objek yang berjarak sama dari kamera, berada pada bidang yang sama. Selama ini dalam depth-of field, semua gambar dalam bidang itu akan berada dalam fokus, karena kamera tidak akan membedakan antara titik yang berlainan dalam bidang yang sama. Harap diingat, apabila Anda membuat keputusan mengenai pengaturan aperture dan seberapa banyak Anda ingin gambarnya berada alam fokus.

 

2. Dengan menggunakan f-number yang terlalu besar bisa menyebabkan kualitas memburuk

Dibidik dengan EF24-70mm f/2.8L II USM, pada 70mm

Area dalam bingkai merah apabila diperbesar
EOS 5D Mark III/ EF24-70mm f/2.8L II USM/ FL: 70mm/ Aperture-priority AE (1/30 det., EV+1,0)/ ISO 100/ WB: Manual

Dibidik dengan EF24-70mm f/2.8L II USM pada 70mm, f/8, f/22
 

Kita telah belajar, bahwa menggunakan aperture yang lebih sempit (f-number lebih besar), secara umum meningkatkan depth-of-field, yang membuat gambar Anda lebih tajam. Namun demikian, jika Anda menggunakan aperture yang terlalu sempit, ini bisa menyebabkan fenomena optik yang disebut ‘diffraction phenomenon’ (fenomena difraksi). Fenomena difraksi menyebabkan gambar terlihat kurang tajam.
Inilah yang terjadi pada contoh f/22 di sini, yang terlihat kurang tajam daripada contoh f/8.  Oleh karena itu, ingatlah tentang fenomena difraksi bilamana Anda mempertimbangkan pengaturan aperture sempit, khususnya dengan f-number yang melebihi f/11. Pengaturan terbaik adalah pengaturan dengan keseimbangan yang bagus antara difraksi dan ukuran depth-of-field, yang dicapai pada f/8 untuk contoh ini. 

 

Deep focus bisa membantu Anda menghasilkan foto seperti ini!

Dibidik dengan EF24-105mm f/4L IS USM pada 24mm, f/8

EOS 5D Mark III/ EF24-105mm f/4L IS USM/ FL: 24mm/ Aperture-priority AE (f/8, 1/400 det., EV+0,7)/ ISO 100/ WB: Auto

Panjang fokus pendek dan aperture sempit untuk mencapai deep focus
Saya menggunakan teknik deep focus untuk menangkap gambar busur kapal, dengan laut di latar belakang. Perhatikan, bagaimana seluruh bidikan berada dalam fokus, dari latar depan hingga ke bagian belakang. Ujung sudut lebar lensa, dengan panjang fokus pendeknya, menyediakan depth-of-field besar yang membuatnya mudah untuk mencapai deep focus.

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

 

Digital Camera Magazine

Digital Camera Magazine

Majalah bulanan yang berpendapat bahwa kegembiraan fotografi akan meningkat dengan semakin banyaknya seseorang belajar tentang berbagai fungsi kamera. Majalah ini menyampaikan berita mengenai kamera dan fitur terbaru serta secara teratur memperkenalkan berbagai teknik fotografi.
Diterbitkan oleh Impress Corporation

Tomoko Suzuki

Tomoko Suzuki

Setelah lulus dari Tokyo Polytechnic University Junior College, Suzuki bergabung dengan perusahaan periklanan. Dia juga bekerja sebagai asisten fotografer, termasuk Kirito Yanase, dan mengkhususkan diri dalam bidikan komersial untuk produk perlengkapan busana dan kosmetik. Sekarang, dia bekerja sebagai fotografer studio untuk produsen perlengkapan busana.