Scheduled Maintenance: Some services on SNAPSHOT may not be available on 28 July 2019 from 1am to 4am. We apologise for any inconvenience caused.
Close
Tips & Tutorials >> All Tips & Tutorials

6 Fitur EOS R yang Berguna untuk Memotret Pegunungan dengan Awan

Awan bisa menambahkan karakter pada foto pegunungan, tetapi untuk mendapatkan bidikan sempurna, fokus dan komposisi harus tepat. Makoto Hashimuki, fotografer Gunung Fuji, memberi tahu kita tentang berbagai fitur EOS yang membantunya mendapatkan bidikan jitu yang lebih mudah daripada sebelumnya. (Dilaporkan oleh: Makoto Hashimuki, Digital Camera Magazine)

Gunung Fuji dengan awan

EOS R/ EF24-105mm f/4L IS USM/ FL: 47mm/ Manual exposure (f/15, 3,2 det./ ISO 100/ WB: Auto
Lokasi pemotretan: Dek Panorama Danau Yamanaka

 

Pemandangan 1: Gunung Fuji saat matahari terbit

Ketika saya mengecek feed kamera web Gunung Fuji (Versi Inggris) pada dini hari, pegunungan tidak terlihat dari Danau Yamanaka akibat kabut tebal, tetapi bisa dilihat dalam feed dari kamera pada dataran yang lebih tinggi. Hal ini biasanya memberi pertanda terbentuknya hamparan awan yang dapat membuat gunung terlihat sangat surealis dan indah.

Dengan tergesa-gesa saya turun ke Dek Panorama Danau Yamanaka (Versi Inggris), dan tiba di sana tepat waktu untuk mengambil bidikan Gunung Fuji ini yang menjulang menembus hamparan awan saat matahari terbit. Saya sangat menyukai cahaya terang nan indah dan kontras yang menonjolkan berbagai detail pada permukaan gunung.

 

#1: Focus Guide (Panduan Fokus)

Setiap kali saya menyatukan hamparan awan ke dalam bidikan saya, semua pengaturan saya sudah siap untuk menangkap detail terbaik pada awan. Untuk mencegah focus hunting (pencarian fokus) saat saya menunggu, biasanya saya beralih untuk menggunakan fokus manual (MF).

Memang sulit untuk mendapatkan fokus jitu secara manual saat matahari terbit, khususnya di pegunungan yang hanya terlihat samar-samar melalui hamparan awan. Tetapi Focus Guide (Panduan Fokus) pada EOS R, sungguh memudahkan pemfokusan. Setelah mendapatkan fokus di tempat yang saya inginkan, saya tinggal menunggu sampai lebih banyak lagi awan yang berkumpul.

Indikator Panduan Fokus pada Gunung Fuji


Saran:  Tentukan tombol AF ON untuk menghidupkan Focus Guide (Panduan Fokus)

Biasanya saya tidak menggunakan tombol AF ON, jadi saya menetapkannya untuk menghidupkan dan mematikan Panduan Fokus. Ternyata, Panduan Fokus khususnya berguna untuk pemfokusan secara manual pada pemandangan yang relatif cerah.

Pahami hal ini: Panduan Fokus juga sangat berguna untuk fotografi makro, di mana depth-of-field yang amat sangat dangkal kerap membuat pemfokusan manual diperlukan.

 

#2: Pasca-pemrosesan gambar RAW dalam kamera

Kemudahan untuk dapat melakukan pasca-proses file RAW dalam kamera memang nyaman—Anda bisa melakukannya di tempat! Untuk bidikan ini, saya meningkatkan parameter kontras Picture Style. Ini memiliki dua efek:

1)Detail bayangan-cahaya pada permukaan pegunungan menonjol lebih baik, menambah dimensi ke bidikan.

2)Pegunungan menonjol lebih baik pada langit yang ditutupi kabut tipis.

Saran: Anda juga dapat menyesuaikan parameter Picture Style yang mendetail saat Anda membidik, dan melakukan pratinjau efeknya dalam waktu nyata pada EVF atau dalam Live View. Tetapi, lakukan ini kalau waktunya cukup. Anda pasti tidak ingin meluputkan kesempatan membidik, karena Anda terlalu sibuk bereksperimen dengan pengaturan Picture Style yang berbeda-beda.

Gunung Fuji dengan Picture Style - Standard

Picture Style (Standard) - Pengaturan default

Puncak Gunung Fuji dengan peningkatan kontras

Picture Style (Standard) - Contrast +2


Baca juga: Teknik Picture Style untuk Meningkatkan Fotografi Lanskap Anda

 

Perlengkapan ekstra: Gunakan Filter Graduated ND (filter densitas netral bertingkat) untuk menyeimbangkan kontras yang tidak rata.

Fenomena hamparan awan cenderung terjadi lebih sering menjelang pagi hari. Pada waktu ini, posisi matahari menunjukkan, bahwa meskipun gunung dan langit tampak cerah, tetapi cahayanya tidak akan mencapai awan dan hutan, sehingga menimbulkan crushed blacks (detail di area yang sangat gelap hilang) di latar depan.

Tanpa filter Graduated ND:

Untuk menyeimbangkan kontras, saya menggunakan Filter graduated ND (GND), menempatkan bagian yang lebih gelap pada Gunung Fuji untuk mengurangi kecerahan bagian itu dari pemandangan. Hal ini juga mengintensifkan warna-warni pepohonan di musim gugur pada latar depan.

 

Dengan filter GND

Dengan filter GND

Tanpa filter GND

Tanpa filter GND


Saran: Anda dapat melihat sejumlah efek filter GND di EVF atau pratinjau Live View, yang seyogianya membantu Anda membuat penyesuaian halus pada posisi filter bilamana perlu.

 

Pemandangan 2: Gunung Fuji di malam hari

Gunung Fuji di malam hari dengan lampu jalan

EOS R/ EF70-200mm f/4L IS II USM/ FL: 200mm (setara 360mm)/ Bulb exposure (f/7.1, 1/60 det.)/ ISO 400/ WB: Auto

Pemandangan Gunung Fuji menjulang tinggi dari tengah lampu jalan, serta detail awan dalam bidikan ini, mengingatkan saya pada lukisan tinta tradisional. Bidikan ini dihasilkan dengan bantuan manual focus peaking dan fungsi 1,6x krop.

 

#3: Focus peaking

Seperti pada Pemandangan 1, saya menggunakan MF untuk menghindari focus hunting saat menunggu sampai muncul formasi awan yang sempurna. Pada jarak hampir sejauh 100km dari Gunung Fuji, akan sulit menghasilkan fokus manual yang layak, kecuali pada hari yang cerah. 

Untuk bidikan malam, Anda bisa juga menggunakan focus peaking, khususnya jika tidak diperlukan fokus pada satu area secara tepat. Di sini, saya sudah menggunakannya untuk menempatkan lampu jalan dalam fokus. Jika lampu jalan terhalang oleh selimut awan, Anda bisa menetapkan fokus pada bintang gemintang sebagai gantinya.

Saran: Kalau Anda tidak bisa melihat focus peaking secara tepat, ubah warna peaking. Di sini, saya sudah menetapkannya ke biru, agar terlihat lebih baik pada latar awan bernada hangat dan lampu jalan.

Focus peaking biru

 

#4: Fungsi krop 1,6x

Bidikan gunung dengan fungsi krop 1,6x

1. Normal
2. Dengan fungsi krop 1,6x

Saat melakukan pratinjau bidikan, saya merasa bahwa bidikannya bisa lebih berdampak kalau saya memotong bagian langit dan latar depan yang berlebihan. EOS R (dan EOS RP) memiliki fungsi krop 1,6x yang berguna untuk beranjak ke jarak yang lebih dekat apabila Anda sudah menggunakan panjang fokus yang panjang pada lensa Anda Tidak saja lensa itu memberi Anda jangkauan yang lebih jauh, tetapi saya juga menyukainya karena saya dapat menyesuaikan komposisi di tempat untuk disesuaikan dengan pemotongan (krop).

Di mana menemukan fungsi: Tekan tombol MENU > SHOOT1 menu > "Cropping/aspect ratio".

 

Fitur kamera lain yang juga membantu


#5: Tutup rana

Ketika saya memotret Gunung Fuji, saya mencari variasi pemotretan dan detail yang berbeda-beda. Ini berarti, bahwa saya kerap beralih di antara sudut lebar dan lensa telephoto saat berada di tempat pemotretan yang sama.  

Pada EOS R, tirai rana secara otomatis turun ketika kamera dimatikan, yang membantu mencegah debu dan elemen lain masuk ke sensor gambar apabila tidak ada lensa yang dipasang. Ini sangat berguna untuk memotret di luar ruangan—Saya merasa tenang bahwa sensor gambar terlindungi dengan baik dari berbagai elemen.


#6: Monitor layar sentuh Vari-angle

Dengan monitor Vari-angle, tidak perlu lagi menempatkan tubuh pada posisi yang canggung ketika mengambil bidikan posisi rendah, seperti yang menampilkan pantulan air gunung. 

Mengoperasikan kamera dengan layar sentuh memang sangat nyaman, khususnya apabila memotret di luar ruangan pada malam hari. 

 

Untuk saran lainnya mengenai pemotretan pegunungan dan lanskap megah, bacalah:
Memotret Gunung Fuji di Musim Dingin: Saran Mengenai Tempat & Komposisi Pemotretan
Fotografi Lanskap Dini Hari: Memotret Sebelum atau Sesudah Matahari Terbit?
Cara Melakukan Bidikan yang Jitu: Menambahkan Dampak ke Lanskap Hutan 

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi dengan mendaftar pada kami!

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!

Makoto Hashimuki

Makoto Hashimuki

Lahir pada tahun 1977 di Shizuoka Prefecture, Hashimuki menekuni fotografi setelah membeli kamera tanpa cermin pada tahun 2012. Terpesona oleh Gunung Fuji, ia kemudian membeli EOS 6D Canon dan lensa untuk menekuni fotografi secara lebih serius. Bidikan Gunung Fuji karyanya, ditampilkan di banyak publikasi di Jepang, termasuk majalah dan kalender fotografi.

Instagram: @hashimuki

Digital Camera Magazine

Digital Camera Magazine

Majalah bulanan yang berpendapat bahwa kegembiraan fotografi akan meningkat dengan semakin banyaknya seseorang belajar tentang berbagai fungsi kamera. Majalah ini menyampaikan berita mengenai kamera dan fitur terbaru serta secara teratur memperkenalkan berbagai teknik fotografi.
Diterbitkan oleh Impress Corporation