LOGIN/SIGN UP function is disabled for upgrade and maintenance. It will resume on 22/01/2022 10.30 AM SGT. Sorry for any inconvenience caused.
Close
Inspirations >> Photos & People

Wawancara dengan Kayden Ee, Usia 14 Tahun, Fotografer Kehidupan Alam Liar

Apa yang kamu lakukan di waktu senggang, saat usiamu 14 tahun? Bagi Kayden Ee (@shutt_ergalaxy) yang baru berusia 14 tahun, hampir sebagian besar waktunya selama ini dihabiskan di bagian Singapura yang lebih terjal, dan di sana dia menerjang medan yang berat, ditemani serangga, terik matahari, hujan, serta kelembapan yang luar biasa, hanya untuk mengabadikan tingkah-laku satwa liar. Kami berbincang dengannya untuk mengetahui tentang apa yang mendorong antusiasnya, bagaimana cara dia menyeimbangkan hobi dan sekolahnya, serta pendapatnya mengenai perlengkapan yang dimilikinya.


Hai Kayden! Karya fotomu bagus-bagus ya. Coba ceritakan, bagaimana awal mulanya kamu memulai fotografi?

Terima kasih! Saya gembira Anda menyukai hasil foto yang saya bidik.

Saya bergabung dengan robotic club saat masih di sekolah dasar, dan hal pertama yang mereka ajarkan kepada kami adalah cara membidik dengan kamera DSLR. Saya masih ingat, kami pernah menggunakan EOS 1000D. Saya sangat menyukai sensasi sentuhan saat memegang kamera—kontrol melalui dial dan tombol, bunyi rana, putaran, dan bunyi klik kamera. Itu salah satu bagian fotografi favorit saya, bahkan sampai sekarang dan ini merupakan sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh ponsel cerdas.


Apakah itu juga yang menggugah kamu untuk memulai memotret satwa di kehidupan alam liar?

Saya baru memulai fotografi setelah memiliki kamera sendiri, sekitar 2 tahun yang lalu. Sebelum itu, saya menggunakan kamera milik sekolah. Saya memperoleh nilai bagus dalam PSLE (Primary School Leaving Examination; ujian nasional utama yang wajib diambil oleh semua pelajar kelas 6 di Singapura), dan orang tua saya membelikan saya EOS 200D kit sebagai hadiah. Saya berpendapat bahwa hadiah itu lebih praktis dibandingkan opsi lain yang saya minta—Lego Death Star yang harganya kurang-lebih sama!

Setelah mendapatkan kamera, saya mengujinya dalam berbagai genre. Tetapi, justru fotografi burung/unggas dan satwa kehidupan alam liar yang paling mengena di hati saya. Saat saya masih kecil, orang tua saya sering membawa saya ke daerah pertanian, tempat perlindungan hewan, dan kami juga memiliki hewan peliharaan. Jadi begitulah, saya menjadi lebih menyadari tentang alam pada usia yang masih sangat dini.

 

Mengenai perlengkapan dan fotografi satwa di kehidupan alam liar

Apa perlengkapan dan fotografi kehidupan alam liar yang menjadi favorit kamu?

Saya selalu kagum dengan kecepatan dan kekuatan burung liar, seperti saat mereka menyelam untuk menangkap mangsanya. Aliran adrenalin yang mengalir deras pada saat berupaya mengabadikan suatu peristiwa yang berlangsung sekilas—entah itu burung yang sedang terbang atau saat sang burung mematuk mangsa di paruhnya!

Yellow-vented Bulbul (Pycnonotus goiavier/Burung Trucukan)
EOS R6/ RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM + Extender RF1,4x @ 700mm

“Ini adalah salah satu dari sejumlah bidikan pertama saya dengan RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM. Sang burung mengepakkan sayapnya dan naluri saya mengatakan kalau burung itu akan segera terbang. Saya segera mengarahkan lensa dan menekan tombol rana. Saya juga tidak menyangka kalau hasil fotonya setajam jarum! Sistem EOS R sungguh membuktikan keandalan dan ketepatan fokusnya.”


White-bellied Sea Eagles (Haliaeetus Leucogaster/rajawali perut putih) sedang menukik
EOS R6/ RF600mm f/4L IS USM @ 600mm

“Semua ini adalah bidikan favorit saya saat ini. Burung pemangsa, raptor, terlihat begitu agung dan perkasa, khususnya saat mereka menukik dan menyambar mangsanya.


Apa yang diperlukan untuk menghasilkan bidikan bagus?

Anda harus sangat sabar, mengamati burung dan memahami perilakunya.

Dari segi perlengkapan, selain panjang fokus yang panjang, yang memberi Anda jangkauan yang dibutuhkan, ini juga membantu untuk:

1. Performa dalam kondisi cahaya rendah yang baik
Kita sering pada akhirnya memotret hutan belantara dan tempat lain dengan penerangan yang buruk. Selain itu, sebagian burung, seperti burung kakak tua, lebih suka bertengger di tumbuhan yang lebat. Dapat menggunakan kecepatan ISO tinggi tanpa terlalu banyak butiran bercak pada gambar, membantu, juga kemampuan pemfokusan rendah cahaya.

Setelah saya beralih dari EOS 200D ke EOS R6, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah performa kamera dalam kondisi rendah cahaya yang jauh lebih bagus!

2. Fokus otomatis yang cepat dan andal
Segala hal yang berkaitan dengan pemotretan burung, semuanya berlangsung sangat cepat sehingga Anda nyaris tidak sempat berpikir, apa lagi mengendalikan fokus. Saya kagum dengan keandalan fokus otomatis yang dimiliki EOS R6 dan RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM. Fitur Animal Detection AF dapat menentukan fokus yang jitu pada mata burung, dan ini merupakan nilai tambah yang luar biasa, khususnya untuk membidik burung kecil yang aktif.

3. Stabilisasi gambar
Saya biasanya melakukan bidikan genggam, karena saya bisa lebih leluasa. Stabilisasi gambar pada lensa dan stabilisasi gambar pada bodi kamera membantu bidikan tetap tajam dan stabil, khususnya apabila menggunakan kecepatan rana yang lebih lambat.


Green Broadbill (Calyptomena Viridis/Burung Madi-hijau kecil)
EOS R6/ RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM + Extender RF1,4x @ 700mm

“Green Broadbill (burung Madi-hijau kecil) dinyatakan telah punah di Singapura setelah terlihat pada rekaman tahun 1941. Tetapi, beberapa bulan yang lalu, burung tersebut terlihat sekali lagi (Versi Inggris). Burung ini memiliki kemampuan kamuflase yang luar biasa—selain warna hijau yang membantunya menyatu dengan sekitarnya, ia juga tidak bergerak-gerak sehingga mudah terluputkan. Gambar ini diambil dengan bidikan genggam pada kecepatan rana 1/20 detik, namun tetap terlihat tajam berkat paduan stabilisasi gambar 6 stop pada EOS R6 dan RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM.


Common Kingfisher (Alcedo Atthis/Burung Cekakak)
EOS R6/ RF600mm f/4L IS USM @ 600mm


Stork-billed Kingfisher (Pelargopsis Capensis/Pekaka emas)
Kedua gambar: EOS R6 + RF600mm f/4L IS USM + Extender RF1,4x @ 840mm


Changeable Hawk Eagle (Nisaetus Cirrhatus/Elang brontok): black morph
EOS R6 + RF600mm f/4L IS USM + Extender RF1,4x @ 840mm

 

Kayden sedang beraksi, mencoba EOS R6 miliknya dengan RF600mm f/4L IS USM.

“Lensa saya biasanya, RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM. Saya menyukainya, karena serbaguna dan mudah digenggam. Sebagai perbandingan, RF600mm f/4L IS USM, yang dipinjamkan kepada saya untuk dicoba, terasa lebih berat—seperti menggendong anak bayi sepanjang hari! Tetapi, setelah sampai di rumah dan memproses gambarnya, semua yang saya alami, terasa sepadan dengan hasil yang diperoleh. Semua gambar tampak lebih tajam, dan jangkauan ekstra 100mm, berarti pemotongan berkurang saat pasca-proses.”


Bagaimana kamu meningkatkan keterampilan fotografi burung/unggas?

Saya banyak melakukan riset online. Saya juga belajar banyak bilamana saya pergi memotret bersama ‘para paman’ saya di komunitas fotografi. Semuanya sangat ramah dan tidak pelit dengan nasihat (mereka sungguh hebat!).  Khususnya mengenai perilaku burung, yang membantu menentukan waktu bidikan saya lebih baik.

Salah satu contohnya adalah cara mendapatkan bidikan burung yang sedang makan. Kami menyadari, bahwa pada sebagian spesies tertentu, apabila sang burung pulang ke sarangnya membawa makanan, burung selalu bertengger pada cabang pohon terdekat sebelum mereka memberi makan anaknya. Jadi, kalau kami melihat sekawanan burung mendarat, kami menganggap itu sebagai isyarat untuk bersiap membidik.

Little Tern (Sternula Albifrons/Burung Dara Laut Kecil): Dewasa (kiri) dan remaja (kanan)
EOS R6/ RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM + Extender RF1,4x @ 700mm

 

Menyeimbangkan fotografi dengan sekolah dan kehidupan pribadi

Kedengarannya kamu menghabiskan banyak waktu untuk memotret. Seberapa sering kamu memotret, dan bagaimana cara kamu menyeimbangkan waktu antara memotret dan pekerjaan sekolah serta aktivitas lainnya?

Saya berupaya untuk memotret setiap akhir pekan kalau bisa. Kadang, saya bangun pukul 5 subuh atau lebih dini, hanya untuk mengejar spesies burung tertentu—bahkan lebih awal daripada waktu saya bangun untuk pergi sekolah.

Bagaimana pun juga, pekerjaan sekolah selalu merupakan prioritas utama saya. Saya selalu memastikan, saya selesaikan dulu pekerjaan rumah sebelum pergi memotret! Pikiran saya jadi lebih tenang. Itu juga merupakan nasihat saya kepada para fotografer muda lainnya.


Bagaimana orang tua kamu menyikapi hobi fotografi kamu?

Mereka mendukung saya, selama saya tidak mengabaikan studi saya. Malahan, mereka menggunakan itu untuk mendorong saya belajar lebih giat. Kami memiliki sistem hadiah yang dikaitkan dengan prestasi saya di sekolah. Kalau prestasi saya di sekolah bagus, ini menambah barang baru perlengkapan saya. Menurut saya, ini sama-sama menguntungkan.

Selain itu, ayah saya [bukan seorang fotografer] mendorong saya untuk memotret sejumlah tempat, dan banyak yang agak jauh dari rumah, menghadang cuaca yang tidak bersahabat, menunggui saya dan mengantar saya pulang. Kadang, ibu saya pun ikut, jadi seperti tamasya keluarga.

Crimson Sunbird (Aethopyga Siparaja/Burung-madu sepah-raja)
EOS R6/ RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM + Extender RF1,4x @ 700mm


Little Spiderhunter (Arachnothera Longirostra/Burung Pijantung kecil)
EOS R6/ RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM @ 500mm

 

Menunaikan tugasnya dalam upaya pelestarian

Kamu sudah banyak memajang foto satwa di kehidupan alam liar, di media sosial, lengkap dengan nama ilmiah dan deskripsi menarik. Apakah ada sesuatu yang kamu harapkan melalui posting foto tersebut?

Saya berharap, semoga orang semakin sadar tentang keragaman hayati di Singapura, dan kebanyakan orang tidak tahu kalau kita memiliki kekayaan ini. Saya juga berharap mendorong kalangan anak muda untuk menyukai fotografi.

Northern Red Billed Hornbill (Tockus Erythrorhynchus/Burung Pijantung kecil)
EOS R6/ RF100-500mm f/4.5-7.1L IS USM + Extender RF1,4x @ 700mm

Malahan, saya bekerja dengan guru ilmu alam saya untuk mendirikan klub pencinta kehidupan alam liar di sekolah (Versi Inggris). Sekarang, sudah memiliki 10 anggota. Beberapa waktu yang lalu, kami berjalan mengitari pekarangan sekolah, dan tidak mengira bahwa kami menemukan penghuni di tempat ini, seperti olive-backed sunbirds (Cinnyris jugularis/Burung madu sriganti) dan Brahminy kites (Haliastur indus/Elang bondol). Saya ingin memiliki peran yang berarti dalam upaya pelestarian di masa depan.


Klub pencinta kehidupan alam liar, bisa jadi merupakan prakarsa yang hebat. Selangkah demi selangkah, lama-lama akan menjangkau jarak jauh! Terima kasih atas waktu yang kamu luangkan, Kayden. Jangan berhenti memotret!

Tertarik untuk memulai fotografi burung/unggas? Baca artikel kami, Panduan Fotografi Unggas bagi Pemula serta beberapa rekomendasi kamera dan lensa.

Untuk saran dan wawancara lainnya, dengan para fotografer burung/unggas, baca yang berikut ini:
Terkagumkan oleh Alam Thailand
Temukan Bagaimana Fotografer Edwin Martinez Memotret Burung Puffins Atlantik dengan EOS R
Potret Burung: 4 Saran Sederhana untuk Menemukan Sudut yang Lebih Bagus

 


Menerima pembaruan termutakhir tentang berita, saran dan kiat fotografi.

Jadilah bagian dari Komunitas SNAPSHOT.

Daftar Sekarang!